Nabire Fokus Kembangkan Enam Komoditas Perkebunan Unggulan
NABIRE - Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Papua Tengah, sedang melakukan langkah strategis dengan menyiapkan ratusan hektare lahan untuk pengembangan enam komoditas unggulan. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah daerah dalam mendorong pergerakan ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Ronald Wilison Manuaron, SP, saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Senin (19/01/2026) mengungkapkan, pemilihan enam komoditas ini didasarkan pada potensi wilayah.
Adapun keenam komoditas yang menjadi prioritas pengembangan tersebut meliputi kelapa, sagu, kakao, kopi, pinang serta kelapa sawit.
Pengembangan ini dilakukan menyusul kesuksesan komoditas kelapa di Nabire yang sebelumnya telah berhasil menembus pasar nasional hingga internasional.
Keberhasilan tersebut menjadi motivasi bagi pemerintah daerah untuk mereplikasi pola serupa pada komoditas lain agar memiliki nilai saing yang tinggi.
Pemerintah daerah tidak main-main dalam mendukung program ini, terbukti dengan penyediaan ribuan hektare areal perkebunan yang telah dipetakan. Sebaran lokasi pengembangan pun telah diatur secara spesifik sesuai dengan kecocokan lahan di berbagai distrik guna memastikan produktivitas yang maksimal.
Untuk komoditas kopi, fokus pengembangan berada di Distrik Uwapa, Menou, Dipa, Nabire Barat dan Siriwo. Sementara itu, sagu dipusatkan di Makimi dan Yaur; kelapa di Moora, Makimi, Wanggar, dan Yaur; kakao di Makimi, Nabire, Wanggar dan Uwapa serta kelapa sawit yang difokuskan di wilayah Yaur, Wami dan Sima.
Program ini juga merupakan tindak lanjut dari arahan Bupati Nabire yang menginginkan kemandirian ekonomi di tingkat lokal. Dengan adanya komoditas unggulan di tiap wilayah, diharapkan setiap kampung di Nabire memiliki sumber penghasilan mandiri yang berkelanjutan bagi warga setempat.
Sebagai langkah kesinambungan, dinas perkebunan tahun ini melanjutkan pembinaan penanaman kopi yang bibitnya telah disalurkan sejak tahun 2024. Selain itu, melihat kesuksesan perkebunan kelapa di Worbak, pemerintah juga menjadwalkan perluasan area tanam kelapa baru pada tahun anggaran ini.
Di sisi lain, perhatian terhadap petani sagu dan kakao terus ditingkatkan melalui pembersihan lahan dan peremajaan tanaman seluas 50 hektare di Uwapa.
Ronald optimis bahwa dengan harga kakao yang kini mulai stabil, antusiasme petani untuk kembali menggarap komoditas ini akan semakin meningkat dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan mereka.(amd)
Bagikan artikel ini


