MUI Siap Bersinergi Wujudkan Masyarakat Religius dan Sejahtera

NABIRE - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Nabire berkomitmen penuh untuk bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mewujudkan masyarakat yang religius dan sejahtera. Hal ini disampaikan oleh Asisten I Bidang Pemerintahan Kabupaten Nabire, H. La Halim, S.Sos.,M.Si, saat mewakili Bupati Nabire dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) MUI ke-50 yang diadakan di Islamic Center, Minggu (03/08/2025).
Dalam sambutannya, H. La Halim menyampaikan tema HUT MUI ke-50, yaitu ‘Hikmat untuk Kelestarian Umat dan Bangsa’. Tema ini, menurutnya, mencerminkan perjuangan MUI yang senantiasa berada di garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai keagamaan yang moderat, mendorong terciptanya masyarakat yang damai serta memperkuat sinergi antara umat dan negara.
H. La Halim menegaskan, bahwa peran MUI sangat penting di era yang penuh dinamika seperti saat ini. Di tengah tantangan moral dan sosial, masyarakat membutuhkan bimbingan keagamaan yang dapat membangun dan mendamaikan.
Ia juga mengucapkan selamat kepada para pengurus MUI Nabire yang baru saja dikukuhkan. "Saya percaya dengan hidupnya pengurus MUI di Nabire, umat akan terjangkau sampai lapisan masyarakat yang lebih luas," ujarnya.
La Halim menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Nabire akan selalu bersinergi dan mendukung program-program MUI demi terwujudnya masyarakat yang adil, religius dan sejahtera. Ia berharap pengurus yang baru dapat menjadi ulama dan pemimpin umat yang mampu menjadi teladan, mempersatukan umat dan menjembatani antara nilai agama dengan dinamika kehidupan modern.
Sementara itu, Ketua I MUI Provinsi Papua Tengah, Dahlan Kader, S.Ag, yang mewakili K.H, Muhamad Ustadz Rofiq, turut memberikan sambutan. Ia mengajak hadirin untuk mengenang kembali sejarah terbentuknya MUI pada tahun 1975 atas inisiasi Presiden Soeharto.
Pada masa itu, lanjutnya, Presiden Soeharto mengumpulkan para ulama dari 26 provinsi untuk berdiskusi tentang persoalan keumatan, sosial dan keimanan di tengah situasi politik yang tidak stabil. Dari pertemuan itulah lahir MUI sebagai wadah pemersatu umat.

Dahlan Kader juga mengingatkan, peran ulama dan MUI sangat strategis dalam kehidupan umat dan bangsa. Merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW, ia menyebutkan bahwa ulama adalah pewaris para nabi yang bertugas untuk melanjutkan ilmu yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW.
Peran MUI, menurutnya, adalah sebagai pembimbing dan pemandu umat untuk kembali pada ajaran yang benar, mengarahkan umat dan menyampaikan dakwah dengan cara yang hikmah.
#Tiga Peran Utama MUI: Pembimbing, Pilar dan Pemersatu
Dahlan Kader kemudian menjelaskan tiga peran utama MUI. Pertama, sebagai pembimbing, MUI membantu umat dalam hal hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun hubungan sesama manusia (hablum minannas).
Kedua, sebagai pilar kehidupan umat, MUI berfungsi sebagai penjaga moral dan etika serta membantu masyarakat menghadapi berbagai masalah sosial. Ketiga, sebagai pemersatu umat, MUI memiliki peran penting dalam membangun hubungan harmonis antarumat beragama dan mempersatukan berbagai organisasi Islam di bawah satu payung.
"MUI mengajak kita semua untuk tetap membangun hubungan yang harmonis, baik sesama antarumat beragama," ucap Dahlan Kader.

Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan, meskipun berbeda suku, ras, atau latar belakang organisasi. Perbedaan tersebut, menurutnya, adalah sunatullah yang harus disikapi dengan saling mengenal dan merangkul.
Dahlan Kader menutup sambutannya dengan mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan momen HUT MUI ke-50 ini sebagai pemicu semangat untuk terus berhikmat bagi umat, menjaga ukhuwah dan bersama-sama membangun Nabire yang damai, rukun dan penuh berkah.
Ia juga meminta semua pihak untuk mendukung program-program MUI dan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang berlandaskan moral dan spiritual, demi tercapainya Indonesia Emas 2045.(sam)
Bagikan artikel ini



