Mengapa Amerika Minta Gencatan Senjata ?

Esai : Abdul Munib*
Menurut Mustafa Khoshcham seorang pemerhati Israel, mengapa Amerika menyerukan gencatan senjata tak lain dan tak bukan karena AS tidak sanggup melihat Israel dihancurkan Iran, jika perang dibiarkan berlarut. Kenapa pula Iran, -meski tak menyatakan menerima gencatan senjata, kemudian menghentikan serangannya ke fasilitas militer Zionis ? Sebagai negara Republik Islam yang yurisprudensinya memakai kitab suci Alquran, menilai musuh yang sudah menyerah tidak bisa terus dihajar. Kalau dia aneh-aneh menyerang lagi akan diberi pelajaran yang lebih eskalatif.
Siasat Iran membuat kota rudal bawah tanah beserta Silo Peluncuran bawah tanah, bukan saja sulit untuk dipantau jumlah keseluruhannya, bahkan tidak mungkin untuk menghambatnya karena tak ada dipermukaan. Tempat peluncuran tak bisa ditarget oleh pesawat jet karena berada di kedalaman tertentu, sulit terdeteksi dan menyebar di seluruh wilayah pelosok Republik Islam Iran.
Selain itu Amerika tak menyangka Republik Islam Iran akan membayar kontan pembalasan tanpa jeda atas serangan Amerika ke tiga pengayaan nuklir Iran di Fordo, Natanz dan Isfahan. Bahkan Republik Islam tak meluncurkan rudal sebanyak ketika menyerang Ain Alasad di Irak sebelumnya, yakni sampai 13 rudal. Cukup enam rudal hipersonik terbaru kelas menengah, yang ternyata berdampak fatal untuk meluluh lantak pangkalan militer Amerika di Qatar. Jika Trump tak melempar handuk segera, bukan tidak mungkin seluruh pangkalan militer Amerika di Timur Tengah atau Asia Barat akan jadi abu dan besi tua, disebabkan kuat dan panasnya bahan hulu ledak rudal balistik presisi Republik Islam.
Dan ternyata serangan Amerika hanya pepesan kosong tak berati, melihat uranium hasil pengayaan terlebih dahulu telah dipindah tempatkan ke suatu titik yang sangat dirahasiakan. Maksud hati menjatuhkan bom penghancuran bunker dengan pesawat B2 Spirit andalannya, untuk menimbulkan radiasi nuklir yang mematikan bagi rakyat Iran, hasilnya nihil. Nol besar. Ini perang yang didasari strategi otak cerdas dengan misi suci.
Yang jauh meleset dari dugaan Barat adalah, dilumpuhkannya sel-sel agen Mossad di seluruh Republik Islam Iran. Ratusan ribu jaringan berhasil dibekuk dalam tempo sangat cepat. Seakan-akan sel-sel itu sudah terpantau lama sebelumnya. Bagaimana mungkin operasi senyap intelijen Barat yang selama ini hebat di media dan buku-buku propaganda, seluruhnya dapat dibekuk dengan senyap dan rapi oleh kekuatan IRGC.
Kemudian dari pada itu, Barat sama sekali tidak memahami bagaimana sesungguhnya Demokrasi Religius yang telah dipilih oleh rakyat bangsa Iran melalui referendum sejak awal berdirinya Ferbuari 1979. Rakyat sendiri yang telah memilih Demokrasi Religius itu. Kesadaran penuh rakyat bangsa Iran atas perlunya memilih norma sistem kekuasaan yang lebih masuk akal.
Sekilas tentan Demokrasi Religius Republik Islam Iran selalu diidentikan dengan negara teokrasi bercorak Islam seperti negara kerajaan Islam Bani Umayah, Bani Abasiah, Bani Usmaniah dan yang kekinian Bani Saudi Arabia. Republik Islam Iran tidak seperti itu. Barat atau negara manapun yang mempraktikan demokrasi material, tak akan faham bagaimana Demokrasi Religius pumya norma sistem kekuasaan dan dapat di jalankan ditengah-tengah masyarakat Bangsa Iran.
Anugerah terbesar bangsa Iran adalah keberlanjutan kepemimpinan pilihan Allah dari kepemimpinan nubuah ke kepemimpinan imamah. Tanpa adanya itu kepemimpinan akan diperebutkan manusia dengan tipu daya dan berdarah-darah. Kepemimpinan Ilahi sebagai manifestasi dari sifat Rububiah (penggembalaan) diperankan oleh seorang Imam pilihan Allah. Pemimpin terasing dari mata manusia material, dibalik keterasingannya, tetap menjalankan misi penggembalaan atas umat kakeknya Muhammad Rasulullah. Namun bagi manusia metafisis, Imam Mahdi terlihat nyata dalam mata batin basyirahnya. Dia kini bahkan anugerah terbesar Allah kepada umat manusia. Bagi murid yang memahami teori Disposesi, justu keberadaan secara fisik manusia sejarah harus selalu ada bagi setiap zaman untuk menghubungkan kepada Allah yang metafisik.
Barat dibangun dalam fondasi atau batu tapak yang membuang konsep metafisik. Baginya yang tak terindera hanya dongeng tahayul. Inilah celah paling rentan dari peradaban Barat, yang sekarang mulai kelihatan merapuh di segala lini. Barat sama sekali tak mengenali musuhnya, Republik Islam Iran. Sedangkan Republik Islam Iran mengenal Barat dengan sebaik-baiknya pengenalan.
Banyaknya musykilat-musykilat tentang Republik Islam Iran bagi Barat, itulah yang membuat Barat selama ini gagal memahami dan gagal mengalahkannya. Sudah lima dekade berjalan Barat memgembargo Iran, tapi hasilnya tidak ada. Kekuatannya kini makin unggul, terbukti dengan Trump minta gencatan senjata. Artinya musuh perlu jeda, koreksi dan evaluasi terlebih dahulu untuk menyerang Iran kembali berikutnya.
Republik Islam tahu bahwa perang kali ini pada tahap awal lebih kepada mencari kemenangan perang narasi. Kini rakyat negara Barat sekalipun lebih pro Palestina dan Iran. Arogansi Amerika-Israel mencapai puncaknya dan masyarakat dunia muak. Dengan memenangkan opini masyarakat dunia Republik Islam Iran telah mendapatkan modal kuat.
Ini adalah kabar baik bagi dunia Pers. Meski telah pindah tangan ke nitizen, ternyata kebenaran dapat mencapai publik melalui jalannya sendiri. Meskipun media mainstream sudah terkunci kausalitasnya untuk memoroduksi karya independen, tapi di tangan perlawanan mampu berhadap-hadapan dengan kezaliman Barat. Pers tetap dapat membuka mata dunia. Pers Barat yang selama ini mampu memerankan hegemoni opini, kini telah lemah. Dikalahkan oleh seliweran berita nitzen yang tak bisa dibendung oleh kontrol dan kendali Imperium Barat.
Menteri Pertahanan Iran mengatakan bahwa pihaknya memiliki rudal-rudal yang jauh lebih canggih dan lebih unggul daripada rudal-rudal sebelumnya. Iran tetap berprinsip bahwa senjata nuklir itu bertentangan dengan syariat agama karena, senjata itu tidak dapat memilah mana sasaran militer dan mana sasaran sipil. Seperti pernah Amerika lakukan pada Hirosima dan Nagasaki.
Sedangkan mengenai kepemilikan Republik Islam terhadap senjata Plasma, itu sedang menjadi isyu militer dunia. Keberadaannya masih dirahasiakan. Dan mengenai kemampuannya dapat menghancurkan pangkalan militer musuh dengan panas yang tinggi dan material terkuat pun dapat memuai.
Sementara stock rudal-rudal Amerika hampir habis. Amerika menghadapi masalah besar dalam mengisi kembali persediaan rudalnya setelah membantu teroris zionis dalam perang melawan Iran. Dan sistem pengembangan alutista Amerika diserahkan di tangan korporasi (swasta) elit globalis.
Tanda tanya diatas, mengapa Amerika minta gencatan senjata ? Jawaban yang mendekati kebenaran, adalah karena Barat sudah mulai melemah. Peradaban baru dunia akan mencampakan mereka. Sebab kezaliman mereka bisa berakhir. Peradaban keadilan menjemput manusia bumi di depan mata.
Esais adalah Penanggung-jawab Koran Harian Papuapos dan Papuapos TV
Bagikan artikel ini



