Nabire Butuh Orang Gila
POSISI Nabire kini menjadi kota yang berposisi ganda, sebagai ibukota kabupaten dan provinsi juga sebagai pintu gerbang bagi beberapa kabupaten di wilayah pedalaman, 6 kabupaten yakni Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya, Puncak dan Puncak Jaya. Karena itu pertumbuhan dan pertambangan penduduk di kota Nabire akan lebih pesat dibanding kota lain di Provinsi Papua Tengah. Sebab dengan menjadi ibukota di provinsi baru akan membuka peluang-peluang baru di berbagai bidang. Tidak hanya transmigran spontan tetapi juga urbanisan dari beberapa kabupaten dan kampung di Provinsi Papua Tengah, sehingga masalahnya akan datang silih berganti. Kasus Topo dan Wadio merupakan bias dari arus urbanisasi di daerah ini.
Kota Nabire sebagai sebagai ibukota kabupaten dan provinsi tentu penataan kota lebih maju dari kota-kota lain di Papua Tengah. Suka tidak suka, ada tidak ada, Nabire harus punya design kota Nabire, rencana tata ruang kota (TRK) dan rencana detail tata kota, (RDTK). Disamping tata ruang umum kabupaten dan rencana detail kabupaten Nabire. Penataan dan pengembangan kota serta pemukiman penduduk diatur sesuai RDTK, sehingga tidak tumpang tindih dalam penjabarannya
Tentu penataan lingkungan pemukiman warga terutama jalan, gang dan lorong serta kebersihan terutama pengelolaan sampah menjadi beban rutin yang diurus melalui instansi terkait bersama DPRD setempat.
Nabire yang juga ibukota provinsi, suka tidak suka, cepat atau lambat akan penambahan daerah otonom baru (DOB), Kotamadya Nabire. Sebab itu, sudah saatnya pemerintah kabupaten memikirkan lokasi ibukota Nabire baru. Entah ke arah barat, timur atau selatan.
Konsekuensinya, eksekutif bersama legislatif menyiapkan lokasi dan penyiapan infrastruktur secara bertahap mulai dari tingkat distrik. Apalagi jauh Papua dimekarkan, ketika Drs AP Youw menjabat Bupati Nabire, sudah ada wacana dan usulan pemekaran Nabire Timur, masyarakat cadangkan lokasinya di Lagari, Distrik Makimi.
Nabire baru mau ke Timur atau ke Barat? Ke Timur sudah ada usulan jauh sebelumnya oleh masyarakat bersama pemerintah saat Youw Adama menjabat Bupati Nabire. Ke Barat, anggota DPRD Kabupaten Nabire, Sambena Inggeruhi beberapa waktu lalu mengatakan masyarakat adat Yeresiam Gua menyediakan lokasi di Wami untuk lokasi kantor bupati supaya ibukota kabupaten Nabire diarahkan ke Barat.
Ya, solusinya ke timur atau barat karena akan ada kotamadya. Karena lokasi pusat pemerintahan provinsi di Wanggar Makmur Distrik Wanggar, maka Distrik Wanggar dan Nabire Barat, dan Nabire otomatis masuk wilayah Kotamadya Nabire tinggal menambah dua distrik.
Dengan membayangkan tugas yang berat dan kompleksnya masalah, Nabire butuh 'orang gila' yang siap tadah dan menatap Nabire ke depan. Nabire butuh pemimpin yang punya visi misi ke depan, berjiwa kepemimpinan, suka mendengar dan keberpihakan kepada masyarakat terutama masyarakat akar rumput.
Sebab itu, partai politik yang akan mendaftar dan merekomendasikan figur bakal calon bupati hendaknya memperhatikan beberapa hal yang menjadi harapan masyarakat di daerah ini.(frans tekege)