NABIRE - Hari ini di sudut indah Kabupaten Nabire, langit seakan berbinar lebih terang. Yayasan Peduli Difabel Nabire, Papua Tengah dengan penuh semangat merayakan Hari Kartini, mengusung semangat baru : Pendidikan inklusif, Pemberdayaan Disabilitas, dan semangat Humanisme yang menyentuh hati.

Ketua Yayasan Peduli Difabel Nabire, Maria Yeti Saputri Kapitarauw, S.Sos, MM, AWP, menyampaikan kepada media ini, Senin (21/4/2025), bahwasannya Kartini bukan sekadar simbol emansipasi wanita, tapi juga pengingat bahwa setiap manusia, tanpa terkecuali berhak atas kesetaraan, pendidikan, dan penghargaan. Di sini, dirinya melihat bagaimana saudara-saudari difabel, cacat fisik, cacat mental dan anak berkebutuhan khusus di Papua, bangkit dengan gagah, menorehkan kisah inspiratif lewat semangat, tekad, dan karya mereka.

Anak-anak dengan beragam disabilitas dan anak berkebutuhan khusus yang kini bisa bersekolah sama seperti anak normal, anak yatim piatu yang belajar mandiri, pemuda-pemudi putus sekolah yang mengukir prestasi, semua adalah ibarat Kartini-Kartini masa kini.

"Mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik,mental atau keterbatasan apapun bukan penghalang untuk berkontribusi, bahkan menjadi pelopor perubahan," ungkap maria yeti saputri Kapitarauw.

Dirinya menambahkan, Dalam balutan kain Budaya salah satu kebanggaan bangsa dan tawa yang menggetarkan jiwa, perayaan ini adalah bukti inklusi bukan sekadar mimpi. setiap langkah kecil adalah revolusi sebuah terobosan menuju dunia yang lebih adil dan manusiawi.

"Selamat Hari Kartini untuk semua pejuang inklusi! Terima kasih kepada Yayasan Difabel Papua Nabire yang terus menyalakan api harapan. Mari kita terus bergandengan tangan, karena dalam keberagaman, kita menemukan kekuatan sejati, Bersama kita bisa," tutupnya. (edi)