NABIRE - Membangunan pendidikan yang berkwalitas baik dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat merupakan suatu tugas yang mulia. Karena hubungan langsung kehidupan manusia dan generasinya. Pendidikan riil dan nyata adalah memulai satuan pendidikan seperti TK, SD, SMP, SMA/SMK dan perguruan tinggi. Dimana anak mulai dari usia dini untuk menerima layanan pendidikan yang berkwalitas dari guru secara bertanggung jawab.

Demikian ditegaskan Ketua Panitia Penyelenggara Pelatihan Literasi Baca Tulis bagi Kepala Sekolah dan guru, Andreas Nuburi, S.Pd pada laporannya pembukaan kegiatan literasi, Senin (18/10/21) di aula SD Inpres Kimi.

Lebih lanjut dikatakan, pada tahun 2010 PBB meluncurkan rencana aksi Milenium Development Goals (MDGs) dengan 8 tujuan pembangunan guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. Kemudian pada tahun 2015 MDGs kembali diperbaharui menjadi Sustainable Delelopment Goal (SDGs) yang berisi 17 tujuan dan 169 target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030 mendatang.

Maka target SDGs terkait pendidikan yakni, menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua.

Berdasarkan data Unicef, penilaian kemampuan membaca kelas awal dengan metode EGRA pada tahun 2015 menujukkan ada 49,95 % dikategorikan belum bisa membaca. Sementara untuk Provinsi Papua ada 52% dan Provinsi Papua Barat 45% yang belum bisa membaca. 

Melihat data-data pendapat beberapa pakar pendidikan menyakan bahwa Indonesia sedang “darurat literasi”. Sehingga membutuhkan keseriusan, sebab kemampuan membaca dan menulis dan hitung merupakan dasar bagi anak mengembangkan potensi dirinya dan dengan kemampuan baca, tulis, hitung yang memadai anak bisa mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (des)