NABIRE – Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa menyebut Provinsi Papua Tengah saat ini layak diibaratkan seperti "di sorga" karena semakin banyak program pemerintah yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, terutama di sektor pendidikan dan kesejahteraan.

Pernyataan itu disampaikan Meki Nawipa saat membuka Launching dan Sosialisasi Program Bangkit Papua Tengah di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Selasa (21/7/2026).

Menurutnya, komitmen Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam membangun sumber daya manusia diwujudkan melalui berbagai program pendidikan, mulai dari pembiayaan mahasiswa hingga bantuan bagi puluhan ribu pelajar di seluruh wilayah Papua Tengah.

"Hari ini Papua Tengah anggaplah di sorga, karena pemerintah sudah banyak melakukan program untuk masyarakat. Sebanyak 550 mahasiswa setiap tahun kami biayai kuliah di Nabire dan Timika. Selain itu, ada 58.920 pelajar SMP dan SMA yang mendapatkan dukungan pembiayaan pendidikan dari pemerintah provinsi," kata Meki.

Ia menjelaskan, pemerintah tidak hanya mengalokasikan anggaran daerah melalui program BOSDA dan beasiswa mahasiswa, tetapi juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui Program Indonesia Pintar (PIP).

Meki mengapresiasi aspirasi anggota DPR RI Daerah Pemilihan Papua Tengah, Komarudin Watubun, yang berhasil memperjuangkan bantuan PIP bagi ribuan pelajar di Papua Tengah.

Sebanyak 2.444 calon penerima PIP akan menjalani proses verifikasi data yang tersebar di lima kabupaten, terdiri atas Kabupaten Nabire sebanyak 1.010 penerima, Mimika 700 penerima, Paniai 448 penerima, Puncak Jaya 171 penerima, dan Deiyai 151 penerima.

Menurutnya, kehadiran Program Bangkit Papua Tengah semakin melengkapi berbagai kebijakan pendidikan yang telah berjalan sebelumnya.

"Selain BOSDA dan PIP, sekarang ada Program Bangkit Papua Tengah. Semua ini saling melengkapi. Mahasiswa kita biayai, pelajar juga mendapat bantuan. Jadi tidak ada lagi alasan untuk turun demo hanya karena persoalan biaya pendidikan," tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Meki juga mengingatkan para mahasiswa dan masyarakat agar tetap menjunjung etika dalam berkomunikasi dengan pemerintah. Ia mengaku prihatin karena masih ada mahasiswa yang langsung mengirim pesan singkat melalui WhatsApp disertai nomor rekening untuk meminta biaya kuliah tanpa mengikuti mekanisme yang berlaku.

"Dulu kami mau bertemu gubernur atau bupati sangat sulit. Sekarang akses begitu mudah, tinggal kirim WhatsApp. Tapi etika juga harus dijaga. Jangan merasa seperti bos hanya karena bisa langsung meminta bantuan," ujarnya.

Lebih jauh, Gubernur menegaskan bahwa keberhasilan Program Bangkit Papua Tengah sangat bergantung pada ketersediaan data masyarakat yang akurat. Dengan dukungan Dana Otonomi Khusus yang cukup besar, pemerintah memiliki peluang memperluas berbagai program kesejahteraan bagi Orang Asli Papua apabila didukung basis data yang valid.

"Jumlah masyarakat Papua Tengah tidak terlalu banyak. Kalau datanya benar, kita bisa menyusun berbagai program, bahkan membuka peluang pemberian bantuan yang lebih luas kepada masyarakat. Karena itu kita membutuhkan data yang valid, bukan data fiktif," tandas Meki Nawipa.

Melalui Program Bangkit Papua Tengah, Pemerintah Provinsi Papua Tengah berharap kualitas pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan sumber daya manusia terus meningkat sebagai fondasi utama kemajuan daerah. (ros/luk)