Masyarakat Pendulang Dipastikan Bukan Pengungsi, Hanya Kembali ke Rumah di Kota

NABIRE - Pascakejadian penembakan di area Kali Semen, Wadio atas, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, yang memicu kepanikan, ratusan warga yang bekerja sebagai pendulang emas dan pekerja kayu di wilayah tersebut memilih turun kembali ke Kota Nabire.
Menanggapi situasi ini, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Nabire, Yulianus Pasang, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa warga yang kembali ke kota ini sebagian besar adalah masyarakat menetap di Nabire dan bukan termasuk kategori pengungsi.
Penegasan ini disampaikan Sekda Yulianus Pasang saat ditemui Papuapos di ruang kerjanya, Senin (20/10/2025). Ia menjelaskan, kelompok masyarakat, seperti yang berasal dari suku Toraja, yang jumlahnya mencapai ratusan dan berprofesi sebagai pendulang, memiliki domisili tetap di Nabire. Mereka naik ke daerah pendulangan hanya untuk bekerja dan kini turun karena faktor keamanan.
"Kalau saya punya masyarakat, misalnya Toraja ini bukan pengungsi. Untuk meninggalkan pekerjaan saja karena ada di Kimi, di Kaliharapan dan seterusnya. Ini ada rumahnya. Tinggal di Nabire. Dia turun karena ada ketakutan," jelas Yulianus Pasang.
Pernyataan ini sekaligus meluruskan persepsi bahwa kepulangan mereka ke Nabire adalah sebagai 'pengungsi'.
Yulianus Pasang menggarisbawahi, para pendulang ini hanyalah warga kota Nabire yang mencari nafkah di kawasan atas, dengan kegiatan utama mereka adalah mendulang emas dan sebagian kecil bekerja di sektor perkayuan. Keputusan untuk kembali ke rumah mereka di Nabire kota adalah murni langkah antisipatif untuk keselamatan diri pascakeributan dan serangan yang terjadi.
Pihak Pemerintah Kabupaten Nabire kini berupaya melakukan pendataan yang akurat. Sekda meminta, jika memang ada masyarakat yang benar-benar merupakan penduduk asli dari wilayah pendulangan di atas dan terpaksa turun ke kota, agar segera dikoordinasikan atau diberitahukan kepada pemerintah daerah.
Hal ini penting untuk membedakan antara warga kota yang pulang kerja dan warga asli daerah pendulangan yang mungkin memerlukan penanganan khusus. Meskipun aparat keamanan telah melakukan evakuasi dan pengamanan di lokasi, data pasti mengenai identitas dan status kependudukan warga yang kembali masih terus dikumpulkan.
Pemkab Nabire ingin memastikan semua warga yang merasa tidak aman mendapatkan perhatian, sambil menghindari penyebutan status 'pengungsi' bagi mereka yang sejatinya hanya kembali ke tempat tinggalnya.
Kepulangan warga ini menjadi cerminan bahwa insiden di Kali Semen telah menimbulkan dampak psikologis signifikan bagi para pekerja. Pemerintah daerah berharap situasi keamanan segera pulih sepenuhnya, agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas ekonomi mereka untuk menopang kehidupan keluarga di Nabire.(sam)
Bagikan artikel ini



