Masyarakat Adat Nabire Minta Hentikan Perjudian
NABIRE – Masyarakat adat Kabupaten Nabire meminta agar aparat keamanan di daerah ini untuk menghentikan kegiatan perjudian di daerah i
Bagikan
NABIRE – Masyarakat adat Kabupaten Nabire meminta agar aparat keamanan di daerah ini untuk menghentikan kegiatan perjudian di daerah ini seperti togel, rolex, wala-wala dan sejenisnya. Dalam penertiban, aparat juga diminta tidak main pilih tetapi hendaknya memutuskan mata rantai perjudian agar Nabire bebas dari perjudian dan tidak menjadikan perjudian di daerah ini sebagai lahan bisnis bagi pihak-pihak tertentu. Hal ini ditegaskan oleh Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Nabire, Badan Musyawarah Adat Kabupaten Nabire, praktisi hukum dan pemuda se Kabupaten Nabire, dalam diskusi tentang perjudian di Kota Nabire, pada Jumat (31/4) di Nabire. Ketua Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Kabupaten Nabire, Herman Sayori menegaskan, Nabire ini ibarat sebuah rumah, di dalamnya 6 bilik dari suku asli Kabupeten Nabire yang kini telah menjadi milik bersama sehingga setiap orang bisa beraktifitas. Siapapun dia, pasti mempunyai pemetaan wilayah, tentara dengan teritorialnya, polisi juga mengatakan wilayahnya, gereja juga akan mengatakan serupa. Semua akan mengatakan wilayahnya masing-masing. Dewan adat juga ada di atas wilayah adatnya. Mengapa, karena semua datang dan pergi tetapi suatu wilayah adat dia tetap dan akan ada. Semua aktifitas ada di atas wilayah adat sehingga perlu ada kerjasama dalam arti masyarakat adat juga menginginkan satu kehidupan yang layak dalam semua bidang, semua ruang gerak yang ada dengan memanfaatkan semua wadah yang ada sebagai areal untuk orang hidup. Sayori menilai perjudian togel sudah berlangsung lama, lebih dari 10 tahun bahkan lebih, menjadi kebiasaan di Nabire sehingga banyak menimbulkan masalah dari hari ke hari. Khusus togel, ada bandar dengan jaringanya ke bawah. Menjadi pertanyaan, siapa terlibat di dalamnya? Ia meminta, jangan mengorbankan masyarakat adat, tetapi harus diperjelas, siapa-siapa yang terlibat di dalam. Sayori mencontoh, pembongkaran wala-wala yang merupakan bagian dari perjudian di Waharia, beberapa waktu lalu. Fakta di lapangan, semua pihak ikut terlibat di dalam. Untuk itu, Sayori menegaskan, harus berani menyatakan bahwa kami juga terlibat di dalam. Kalau memang terlibat jujur, sebaiknya dibicarakan semua pihak secara jujur. Demikian pula dengan perjudian togel yang menjamur di tengah kota Nabire dari hari ke hari selama ini. Sayori juga menyinggung, perjudian di kota ini tidak bisa dituntaskan karena di dalamnya ada japre-japre. Apabila memang ada, harus diperjelas, siapa-siapa yang mendapat japre dari perjudian di daerah ini. Ketua LMA ini menduga pembongkaran wala-wala di Waharia ada saling menyalahkan antara pihak yang satu dengan pihak lain, diantara pimpinan dan pimpinan. Bagian ini harus jelas, kalau tidak, akan terjadi gap antar pimpinan. Sayori juga meminta untuk saling menghargai antar lembaga, baik itu pemerintah eksekutif, TNI, Polri, agama dan lembaga adat agar memadang sebuah masalah dari berbagai perspektif sehingga dapat mencari solusi bersama demi ketenteraman dan kenyaman di daerah ini. Apabila kita sepakat basmi perjudian togel, kita basmikan bersama-sama. Togel dia berakar di mana, mari kita lihat sama-sama dia bertengger di akar mana. Ia menilai, selama hanya mencabut di bawah saja, peluncur saja, tanpa mencabut bandar yang besar di atas, persoalan tidak akan selesai, karena yang besar masih ada. Sama halnya juga melarang milo (minuman lokal=bobo), kalau hanya menindak penjual bobo di jalanan tetapi pohonnya di Waroki masih hidup, bagaimana mau dibasmikan. Pembasmian bobo, akan tuntas apabila pohon bobo juga ikut dimusnahkan. Demikian juga togel. Sementara itu, Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Nabire, Melkisedek Rumawi menilai, walaupun Nabire dilanda dengan bencana virus Corona, perjudian tetap saja masih berlangsung. Hampir semua lokasi, masih berlangsung permainan togel. Perjudian seperti wala-wala, togel, rolex, dadu dan lain-lain tidak pernah diberantas oleh penegak hukum di daerah ini. Kepala Suku Nabire Kota ini mengingatkan kepada aparat penegak hukum agar ketika memberantas togel dan perjudian lainnya, jangan tebang pilih, tetapi tuntaskan dari peluncur hingga bandar. Karena, perjudian ini masih ada di tengah masyarakat di mana-mana, sementara kita sedang berjuang mencegah wabah virus covid-18. Rumawi mengungkapkan, masyarakat adat pernah mencari tempat perjudian berupa wala-wala di tempat yang terbuka, terang dan bisa dijangkau tetapi digledek oleh petugas beberapa waktu lalu. Tetapi, aparat belum menertibkan perjudian togel, bahkan masih perjudian di mana-mana. Oleh sebab itu, Rumawi mengatakan, apabila aparat penegak hukum meminta untuk menertibkan perjudian, KUHP pasal 303, masyarakat ada siap membantu aparat penegak hukum untuk menertibkan togel di daerah ini.(ans)
Bagikan artikel ini



