NABIRE - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) telah lama digadang-gadang sebagai lokomotif ekonomi di tingkat kampung. Namun, apa saja faktor esensial yang membuat sebuah BUMDes bisa berdiri kokoh dan terus berkelanjutan ?. 

Menurut Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Nabire, Fransiskus Magai, S.Ip, ketersediaan modal bukanlah satu-satunya kunci. Ada sinergi faktor internal dan eksternal yang jauh lebih krusial.

Pernyataan tersebut disampaikan Fransiskus saat diwawancarai di Aula RRI, Jumat (26/09/2025). Ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan BUMDes di Nabire maupun daerah lain sangat bergantung pada fondasi yang kuat, yang meliputi potensi sumber daya desa, ketersediaan modal dan anggaran, hingga yang paling vital adalah kepemimpinan yang efektif serta tim pengelola yang mumpuni. 

Faktor-faktor ini, ketika dikelola dengan sistem manajemen yang baik, akan menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.

Fransiskus merincikan, bahwa faktor internal berpusat pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola. Kepemimpinan yang efektif di tingkat kepala BUMDes menjadi faktor penentu utama. Seorang pemimpin harus memiliki wawasan luas, kemampuan manajerial yang tinggi dan visi yang jelas untuk mengarahkan unit usaha BUMDes menuju keberhasilan. 

Tanpa visi yang kuat, BUMDes berpotensi kehilangan arah di tengah persaingan pasar.

Di sisi lain, kualitas tim pelaksana tak kalah penting. Adanya SDM yang kompeten dan terampil—mulai dari pengelolaan usaha, pencatatan keuangan yang akuntabel, hingga teknis operasional adalah prasyarat efisiensi. Kemampuan ini harus didukung oleh sistem manajemen yang baik, mulai dari tahap perencanaan strategis, pengorganisasian tugas, penugasan yang jelas, hingga mekanisme pengawasan yang transparan, yang seluruhnya menjadi kunci utama untuk mencapai target BUMDes.

Selain itu, BUMDes wajib berpijak pada potensi yang dimiliki kampung. Potensi sumber daya desa, baik itu kekayaan alam, aset ekonomi maupun potensi sosial budaya lainnya, harus dimanfaatkan untuk membangun unit usaha yang inovatif dan menguntungkan. 

Tentu saja, hal ini harus didukung dengan ketersediaan modal yang cukup, baik dalam bentuk uang tunai, aset produktif maupun sumber daya lain untuk menjalankan dan memperluas skala usaha.

Namun, faktor internal saja tidak cukup. Magai menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat desa dalam setiap tahapan BUMDes, mulai dari perencanaan, implementasi program, hingga pengawasan. 

Keterlibatan masyarakat desa bukan hanya memberikan legitimasi, tetapi juga mendorong rasa kepemilikan sehingga BUMDes benar-benar menjadi pilar ekonomi bersama.

Faktor eksternal lain yang tak bisa dikesampingkan adalah dukungan kebijakan pemerintah, termasuk kerangka hukum yang jelas yang dapat membantu pendirian dan perkembangan usaha BUMDes. 

Magai juga menyoroti pentingnya kerja sama dengan pihak eksternal. Menjalin kemitraan strategis dengan lembaga pemerintah, sektor swasta atau komunitas di luar desa dapat membuka akses ke pasar yang lebih luas, sumber daya tambahan dan memperkuat posisi BUMDes di kancah regional.

Terakhir, kemampuan BUMDes untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan pasar sekitar menjadi penutup dalam mencapai keberlanjutan. Pemahaman yang mendalam terhadap dinamika pasar dan lingkungan akan membantu pengelola BUMDes dalam menentukan strategi bisnis dan jenis usaha yang paling sesuai serta menguntungkan. 

“Faktor-faktor ini harus berjalan selaras. Jika salah satunya pincang, maka keberlanjutan BUMDes akan terancam,” tutup Magai, menegaskan bahwa kesuksesan BUMDes adalah hasil dari kolaborasi terencana antara pemerintah, pengelola dan seluruh warga kampung.(sam)