NABIRE - Terik matahari di langit Nabire Barat terasa kian menyengat dalam beberapa pekan terakhir, membakar hamparan tanah yang kini tampak retak-retak. Musim kemarau ekstrem yang datang tanpa ampun seolah-olah menjadi ujian terberat bagi ketahanan para penggarap bumi di kawasan tersebut.

Bukan hanya sekadar panas yang membakar, denyut kehidupan para petani kini kian terjepit akibat hantaman ganda yang datang secara bersamaan. Di saat air hujan enggan turun untuk membasahi bumi, pasokan air dari jaringan irigasi utama di wilayah itu justru terhenti total.

Kelumpuhan infrastruktur pengairan ini ternyata bukan tanpa sebab, melainkan akibat adanya proyek perbaikan besar-besaran yang sedang dikebut oleh otoritas terkait. Sayangnya, jadwal rehabilitasi saluran air tersebut berjalan di waktu yang paling krusial bagi kelangsungan hidup tanaman warga.

“Sudah satu bulan lebih tidak ada hujan sama sekali, dan saat ini kebetulan sedang ada proyek perbaikan besar-besaran pada sistem irigasi oleh pemerintah,” ujar Narno, seorang petani lokal, saat ditemui di areal persawahan kering, Selasa (4/8/2026).

Ia bersama puluhan petani lainnya hanya bisa mengelus dada melihat ladang hortikultura dan tanaman pangan mereka terancam mati kekeringan. “Kami mengalami kendala kekurangan air yang sangat parah karena sementara ada perbaikan irigasi di areal pertanian kita,” tambahnya dengan nada lirih.

Ketiadaan pasokan air dari irigasi membuat ladang-ladang pertanian kehilangan satu-satunya sumber kehidupan di tengah puncak musim kemarau panjang. Pemandangan hijau yang biasanya membentang luas kini berubah menjadi hamparan tanaman layu yang merana menunggu uluran kepastian.

Demi menyelamatkan sisa-sisa hasil panen yang masih bisa dipertahankan, para petani terpaksa harus memutar otak dan mengerahkan tenaga ekstra. Mereka bergotong royong menggali sumur-sumur buatan secara swadaya di tengah sawah sebagai langkah darurat demi membasahi akar tanaman yang kehausan.

Mata rantai penderitaan yang melilit para petani di Nabire Barat ini akhirnya berhasil memantik perhatian serius dari gedung parlemen daerah. Situasi pelik tersebut memicu reaksi cepat dari para wakil rakyat yang memantau langsung kondisi di lapangan.

Anggota DPRK Nabire, Markus Makai, menyampaikan keprihatinan mendalam atas krisis air yang kini mencekik perekonomian warga akibat hantaman kemarau ekstrem. Sebagai wakil rakyat, ia menegaskan bahwa persoalan krusial ini sama sekali tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan cepat.

“Saya akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mencari solusi terbaik menangani permasalahan ini agar para petani kita tidak terus-menerus merugi,” tegas Markus melalui pesan singkat WhatsApp, menutup asa para petani yang kini menanti uluran tangan nyata. (amd)