Keselamatan Pramuka Adalah Prioritas Utama

NABIRE - Sekretaris Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Nabire, Cheppy Karubuy, kepada Papuapos Nabire, Senini (7/5/2025) mengatakan, pernahkah ia melihat di jalan raya, seseorang naik motor tanpa helm? Atau mungkin ada yang pakai helm hanya karena takut kena tilang polisi? Naik mobil tanpa sabuk pengaman, baru buru-buru pasang saat lihat kamera ETLE?, bahkan teknologi mobil terbaru yang memberi peringatan saat sabuk tidak dipasang, justru diakali.
“Fenomena seperti itu menjadi gambaran betapa rendahnya budaya keselamatan kita. Kita masih sering menganggap remeh hal-hal yang sebenarnya penting bagi nyawa. Tabrakan di jalan raya? Sering terjadi, dan salah satunya disebabkan sikap abai terhadap keselamatan.
Lanjutnya, sekarang bayangkan, bagaimana jika sikap seperti itu terbawa dalam kegiatan Pramuka? Kepramukaan adalah kegiatan yang kaya akan tantangan dan petulangan. Berkemah, menjelajah, mendaki, bermain di sungai, meniti, memanjat dan sebagainya. Semua sangat menarik, tapi sekaligus mengandung risiko. Apalagi, sebagian besar pesertanya adalah anak dan kaum muda. Maka, tugas kitalah, para pembina Pramuka, untuk memastikan bahwa keselamatan mereka selalu menjadi prioritas utama.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka sudah lama menyadari pentingnya hal ini. Sejak tahun 2007, sudah ada dokumen resmi tentang manajemen risiko dalam gerakan Pramuka. Ini bukan hanya teori, tapi panduan praktis yang bisa dipakai oleh semua tenaga pendidik kepramukaan, baik pembina, pelatih, pamong saka, hingga para pengelola kwartir dan pelaksana kegiatan.
Kenapa Manajemen Risiko Itu Penting ?
Karena risiko dalam kepramukaan bukan sesuatu yang harus dihilangkan, tapi harus dikelola dengan baik. Kegiatan yang terlalu steril dari risiko bisa jadi membosankan dan tidak mendidik. Tapi sebaliknya, jika diabaikan, risiko bisa berubah menjadi bahaya nyata. Contoh sederhana, kegiatan meniti balok untuk Pramuka Siaga yang sering dilakukan pada saat Pesta Siaga. Jika balok diletakkan persis di atas tanah, tantangannya hilang dan tidak menarik buat mereka. Tapi kalau terlalu tinggi, bisa berbahaya. Maka, harus ada ukuran yang pas, aman tapi tetap menantang. Kita perhatikan tanah di bawahnya cukup aman, tinggi balok disesuaikan dengan ketinggian anak, dan pembina senantiasa siap mendampingi.
Namun bagaimana jika meniti balok setinggi 5 meter dari permukaa tanah? Apakah boleh? Tentu boleh. Tapi risikonya sudah kita hitung, mitigasinya kita lakukan. Kegiatan tersebut bisa dilakukan asalkan ada helm, tali pengaman (belay), dan instruktur yang paham prosedur keselamatan, dan lain sebaginya. Di situlah seni dalam merancang kegiatan Pramuka yang seru, mendidik, dan aman.
Jangan Remehkan Risiko !
Perlu diingat, kelalaian yang menyebabkan kecelakaan, apalagi kehilangan nyawa, bisa berdampak hukum serius. Tidak cukup berkata ‘kami tidak sengaja’. Dalam hukum, kelalaian bisa berarti pidana. Tapi jika semua prosedur keselamatan telah dilakukan dan risiko terjadi di luar kendali kita, itu akan jadi pertimbangan berbeda.
Saatnya Pembina Pramuka Naik Kelas
Sekarang, di banyak Kursus Mahir Pembina, materi Manajemen Risiko sudah mulai diajarkan. Setelah Kwarnas lakukan di beberapa kegiatan nasional, beberapa Kwarda dan Kwarcab juga sudah menjalankan praktik baik tersebut. Namun para pembina di gugus depan harus lebih kuat lagi untuk belajar, bertanya, dan mulai menerapkan.
Kita selaku Pembina bisa mulai dari hal kecil: Pakai helm saat naik motor ke pangkalan, pakai sabuk pengaman saat berkendara, Ajarkan anak-anak tentangnya pentingnya keselamatan sejak dini, Pelajari teknik menilai risiko (Rick Assessment) sebuah kegiatan lalu konsultasikan kegiatan Kakak ke Pusdiklatcab atau pelatih di wilayah masing-masing.
Kakak-kakak Pembina Pramuka, keselamatan bukan hanya soal alat pengaman. Itu soal kesadaran, tanggung jawab, dan cinta kita pada adik-adik Pramuka. Jadilah yang terdepan dalam membentuk budaya keselamatan. Jangan hanya mengawasi dari jauh, tapi libatkan diri, pahami risiko dan pastikan setiap kegiatan adalah ruang belajar yang selamat dan menyenangkan. “No more accidenst in scounting! Adik-adik kita belajar lebih cepar dari teladan, bukan dari ceramah,” tutunya.(agustinus)
Bagikan artikel ini



