NABIRE - Kembali di akhir tahun pelajaran 2025/2026 ini, SMA Sekolah Luar Biasa (SMA–LB) Nabire mengikutkan tiga peserta kelas XII pada Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ), dengan harapan ketiga siswi ini bisa lulus dengan hasil terbaik.

Untuk itu, Kepala sekolah SMA LB Nabire, Yosafat Nawipa, S.Pd, yang ditemui Papuapos Nabire, Selasa (21/4/26) mengatakan, Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di seluruh Indonesia, tentunya tidak sama dengan sekolah regular yang setiap tahun menamatkan siswa/siswi hingga puluhan dan ratusan orang.

Tetapi berbicara soal tanggung jawab moral itu ada di lembaga pendidikan khusus, yang mana para guru dapat menghadapi murid sesuai dengan kebutuhan khusus yang semuanya membutuhkan kesabaran dan ketulusan hati dalam memberikan pelayanan agar anak berkebutuhan khusus punya semangat belajar.

“Kalau di sekolah reguler 20 hingga 30 anak murid dapat diajarkan oleh satu orang guru merupakan hal biasa, tetapi di sekolah anak berkebutuhan khusus terbalik, satu murid didampingi 20 guru, sehingga tugas dalam dunia pendidikan lebih berat tugas guru yang ada di sekolah berkebutuhan khusus,” jelasnya.

Untuk itu, di sekolah–sekolah SLB yang ada di daerah ini paling banyak menamatkan anak atau peserta didik pada kelas akhir di setiap jenjang pendidikan, paling banyak 5 murid dan paling sedikit 1 hingga 3 orang, dengan demikian orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus jangan disembunyikan.

Tetapi manfaatkan lembaga pendidikan anak berkebutuhan khusus yang ada, karena pemerintah telah menyiapkan sejumlah sarana dan prasana bagi mereka. 

“Di Negeri ini tidak ada anak yang bodoh dan pintar, tetapi yang ada itu belum tahu dan tahu. Dengan demikian semua anak punya hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan Pendidikan,” tandasnya.(des)