NABIRE — Kemarau panjang yang telah melanda Kabupaten Nabire, Papua Tengah, selama sekitar empat bulan mulai memicu krisis air bersih. Sumur warga di sejumlah wilayah terus menyusut, bahkan sebagian terancam mengering karena hujan tak kunjung turun.

Kondisi ini memaksa sebagian masyarakat di wilayah perkotaan hingga pinggiran Nabire membeli air bersih dari penyedia swasta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah tingginya permintaan, warga bahkan harus menunggu hingga beberapa hari untuk mendapatkan pasokan air.

Salah satu wilayah yang cukup terdampak adalah Distrik Nabire Barat. Selain debit sumur yang menurun drastis, warga juga mengeluhkan perubahan kualitas air sehingga tidak lagi layak digunakan secara langsung untuk kebutuhan rumah tangga.

Narno, warga SP1, mengaku keluarganya telah mengalami kesulitan air bersih selama lebih dari satu bulan. Sumur di rumahnya terus menyusut hingga akhirnya ia terpaksa membeli air tangki dengan harga sekitar Rp350 ribu.

Namun, harga mahal tersebut bukan satu-satunya persoalan. Tingginya permintaan membuat air yang dipesan tidak selalu dapat diantar pada hari yang sama.

“Itupun tidak bisa langsung diantar pada hari yang sama, besok atau lusa baru diantar,” keluh Narno.

Wabup: Saya Juga Kesulitan Air

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Nabire. Wakil Bupati Nabire, Burhanudin Pawennari, mengakui bahwa kemarau panjang telah berdampak langsung terhadap ketersediaan air bersih masyarakat.

Burhanudin menyampaikan keprihatinannya usai membuka Sosialisasi Statistik Sektoral di Aula Diskominfo Nabire, Kamis (6/8/2026).

“Kurang lebih empat bulan hujan belum turun. Saya pun ikut merasakan kesulitan mendapatkan air. Di tempat saya sendiri ada dua sumur, tetapi debitnya mulai berkurang,” ungkap Burhanudin.

Menurutnya, pemerintah daerah telah berupaya merespons kondisi tersebut dengan mengoptimalkan armada yang tersedia untuk membantu masyarakat mendapatkan pasokan air bersih.

Salah satu armada yang dikerahkan adalah mobil tangki milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nabire.

Tangki BPBD Beroperasi Setiap Hari

Sekretaris BPBD Kabupaten Nabire, Charles Saroi, mengatakan mobil tangki milik BPBD saat ini dikerahkan setiap hari untuk mendistribusikan air kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Mobil tangki kami setiap hari memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat. Hari ini pun sejak pagi sudah beroperasi,” kata Charles.

Meski demikian, BPBD masih menghadapi kendala keterbatasan armada. Tingginya permintaan dari masyarakat membuat pelayanan belum mampu menjangkau seluruh warga terdampak secara maksimal.

“Kami mohon maaf kepada masyarakat karena pelayanan belum maksimal. Ini karena keterbatasan armada, sementara permintaan yang masuk ke BPBD cukup tinggi,” tambahnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih di Nabire telah meningkat tajam seiring semakin panjangnya musim kemarau.

Tirta Adidharma Terkendala Intake

Sementara itu, pelayanan air bersih melalui Perumda Tirta Adidharma Nabire juga menghadapi kendala teknis.

Direktur Perumda Tirta Adidharma Nabire, Jhon Monim, menjelaskan pelayanan bagi masyarakat terdampak kekeringan di Distrik Nabire Barat untuk sementara baru dapat menjangkau kawasan di sepanjang jalan utama.

Keterbatasan tersebut terjadi karena bak penampung atau intake di Kali Semen mengalami kerusakan. Untuk sementara, intake menggunakan bronjong dan terpal sehingga kapasitas tampung air menjadi terbatas.

“Pelayanan sementara hanya mampu menjangkau wilayah jalan utama,” jelas Jhon.

Kondisi intake yang belum berfungsi optimal menyebabkan sebagian air terbuang dan mengurangi kapasitas distribusi kepada masyarakat.

Dengan kemarau yang telah berlangsung sekitar empat bulan, kebutuhan air bersih di Nabire diperkirakan masih akan meningkat apabila hujan belum juga turun. Pemerintah daerah bersama BPBD dan Perumda Tirta Adidharma dituntut memperkuat langkah penanganan agar warga tidak semakin kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar tersebut. (amd)