NABIRE - Forum Kerukunan Independen Mahasiswa/i West Papua (FIM-WP) Kabupaten Nabire menduga pola lama kini Jakarta kembali terapkan untuk memuluskan PT. Antam Blok Wabu menggaruk emas yang terkandung di perut bumi Intan Jaya.

Pasalnya PT. Freeport Indonesia yang kini menggaruk tembaga dan emas yang merlimpah di tanah Amunggsa hingga merebak ke Paniai dan Intan Jaya, adalah atas kesepakatan sepihak antara Jakarta dan Amerika pada puluhan tahun silam.

Karena itu, FIM-WP dalam pernyataan tertulisnya menyatakan, tutup PT. Freeport, bersama aktivitas eksploitasi semua perusahan multy national coorpooration (MCC) milik negara-negara imperialialisme dan menolak dengan tegas rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Provinsi  Papua menyangkut eksploitasi PT. Antam Blok B Wabu oleh PT. MIND ID.

Pasalnya, menurut FIM-WP, belum duduk bersama dengan rakyat untuk disepakti.

Selain itu hingga kini negara belum usut tangkap, adili dan penjarahkan aktor pelangalan HAM selama keberadaan PT. Freeport Indonesia di Papua.

Freeport belum menjalankan kewajibanya untuk merehabilitasi lingungan akibat eksploitasi tambang.

FIM-WP meminta agar negara segera melakukan audit kekayaan dan kembalikan PT. Freeport.

Serta berikan pesangon untuk buruh, tarik TNI/PORLI dari tanah Papua, dan audit cadangan tambang dan kerusakan lingkungan.

“Hentikan aktivitas MP3EI dan stop pembangunan pangkalan militer di seluruh tanah Papua dan menolak kebijakan Otsus jilid II yang merupakan akar persoalan Papua di era reformasi ini,” tandas mereka.

Dikecam FIM-WB jika tidak diindahkan, berikan hak penentuhan nasib sendiri sebagai solusi demokratik bagi rakyat bangsa Papua agar rakyat dan bangsa Papua menentukan masa depan pertambangan PT. Freeport di tanah Papua.

Usai temu pers, Ketua FIM-WP Kota Studi Nabire, Nayali Kogoya mengatakan Allah sudah menempatkan manusia di atas sebidang tanah masing-masing untuk mengelola, menikmati dan merawatnya.

“Sang Ilahi berikan pula tanah masih-masing di seluruh dunia, maka segera meninggalkan tanah kami,” ujarnya dalam temu pers, Rabu (07/04/21).

Lanjutnya, manusia berambut keriting berkulit hitam, Allah menempatkan di Tanah Papua.

“Biarkan kami tinggal di tanah kami sendiri,” tambahnya.

Nayali menegaskan, Orang asli Papua (OAP) akan terus lakukan perlawanan terhadap invertor yang kini berinventasi di tanah Papua.

“OAP terus lakukan perlawanan.

Kekompakan rakyat Papua melawan inventasi-inventasi yang ada di tanah Papua.

Jika hal ini tidak ditanggapi baik, kami terus melakukan aksi,” tandasnya. (eby)