Kecerdasan Anak Ditangan Guru, Berpedoman Pada Landasan 3M
NABIRE - Kehadiran guru di sekolah atau kelas dengan tugas utama yang melekat untuk mencerdaskan anak bangsa dengan berpedoman pada langkah
Bagikan
NABIRE - Kehadiran guru di sekolah atau kelas dengan tugas utama yang melekat untuk mencerdaskan anak bangsa dengan berpedoman pada langkah awal Membaca, Menulis dan Menghitung (3M) sebagai pintu masuk membawa anak untuk mengenal pentingnya pendidikan dimasa yang akan datang.Karena dibangku pendidikan anak akan diperkenalkan pada sebuah huruf, cara menulis dan menghitung yang lebih baik secara sistematis lewat mulut dan tangan seorang guru dan proses ini akan berjalan seiring dengan waktu hingga anak-anak dibentuk melalui awal yang disebut mengeja dengan mengabungkan antara huruf hidup dan huruf mati.Untuk itu bagi seorang guru diwajibkan memberitahukan huruf mati yang sebanyak 26 huruf dan huruf hidup sebanyak 5 huruf agar dari bagian ini akan memberikan ruang kepada anak atau peserta didik untuk memulai membaca, menulis dan menghitung dan semua tentunya membutuhkan waktu dan proses dalam jangka waktu sesuai ketentuan disetiap akhir dan awal tahun pelajaran.Demikian dikatakan Kepala Sekolah Dasar (SD) Inpres Kota Baru Mesak K. Aninam, S.Sos kepada Papuapos Nabire, Selasa (25/2), di ruang kerjanya, guru itu tugasnya mencerdaskan anak bangsa dengan tugas utama mendidik, sementara orang tua mempunyai tugas lagi yakni mengajar dan mengajak agar di sekolah menjadi lebih baik.Sementara di hal lain yang harus dipedomani oleh semua guru yang beraga Kristen, pendidikan yang berlandaskan 3M sesungguhnya telah diajarkan dan dilakukan oleh dua orang tokoh pembawa Injil Kristus ke tanah Papua di pulau Mansinam lebih tepatnya di Pantai Kwawi pada tahun 1856 setelah satu tahun masuknya Injil pada tanggal 5 Februari 1855.Dimana Rasul C.W. Ottouw dan J.G. Geissler tidak serta memberitakan injil, karena sangat sulit berbahasa dan karya komunikasi, akhirnya kedua Zendeling ini memberanikan diri membeli budak pada masyarakat untuk dipelihara dan kelak menjadi embrio pembentukan sekolah peradaban pertama yang dimulai pada masa awal pendaratan Injil.Dan pada saat itu kedua sang Rasul memulai pekerjaannya pada tahun 1856, dengan konsep pendekatan yang sangat sederhana untuk cakap membaca, menulis dan menghitung, dengan membuka dua sekolah yakni sekolah putra Peratama pada tahun 1856 di Mansinam dan sekolah Putri pada tahun 1857 di Kwawi.Sehingga sebagai guru harus merasa terpanggil untuk melayani dengan hati guna mencerdaskan anak bangsa dan sebagai landasannya harus dimulai dengan metode 3M yang telah diajarkan oleh C.W. Ottouw dan J.G. Geissler, sebagai embrio pembentukan sekolah peradaban pada awal pendaratan injil di tanah Papua.(des)
Bagikan artikel ini



