Kajian Ilmiah Pers (17) Tajuk, Politik Kebangsaan Redaksi
NABIRE - Politik Redaksi adalah tajuk. Bagaimana media memandang sesuatu masalah, peristiwa atau fenomena, bisa dilihat dari tajuknya. Media memang tidak boleh partisan, tapi sebagai entitas manusia terpimpin dan ada lembaganya tentu harus mampu hadir di tengah masyarakat dan memperkenalkan dirinya. Seperti cogito ergo cum milik Rene Descartes, bahwa aku berpikir maka aku ada.
.png)
NABIRE - Politik Redaksi adalah tajuk. Bagaimana media memandang sesuatu masalah, peristiwa atau fenomena, bisa dilihat dari tajuknya. Media memang tidak boleh partisan, tapi sebagai entitas manusia terpimpin dan ada lembaganya tentu harus mampu hadir di tengah masyarakat dan memperkenalkan dirinya. Seperti cogito ergo cum milik Rene Descartes, bahwa aku berpikir maka aku ada.
Tentu saja politik redaksi bukan politik praktis seperti Pemilu yang kemarin digelar. Melainkan politik kebangsaan. Bangsa adalah entitas kelompok atau kaum yang terbesar, selepas itu kita manusia yang hidup dibawah matahari yang sama. Meminjam istilah group musik Scorpion asal Hannover Jerman, dalam lagu Under the Same Sun. Kita mahluk berakal yang berdiri diatas satu planet bernama bumi. Politik disini politik kemanusiaan, politik anti hegemoni.
Pers Barat terjebak ke dalam politik hegemoni. Dia tidak bisa keluar dari cengkeraman kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme. Bahkan ia lengket bersama mazhab Barat yang sekarang sedang berlangsung menampilkan genosida di Gaza secara terang benderang. Dan Pers mereka tidak mempermasalahkannya.
Pers kita berdasarkan kepada falsafah Pancasila, dimana kemanusiaan bukan berdiri sendiri, melainkan harus bersama keadilan yang senantiasa ditegakkan dalam perilaku atau adab manusia.
Dalam pada itu, seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 45, tentang ikut serta dalam keterlibatan dunia, maka Pers Nasional tak bisa menghalalkan hegemoni antar bangsa yang berakibat mengganggu ketertiban dunia. Dasar ketertiban itu menghargai kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kita dan dibentuknya pemerintah ada untuk tujuan atau kehendak bersama seperti itu. Pers kita tak boleh seperti Pers Barat.
Tajuk adalah politik kebangsaan redaksi yang bukan saja bersikap di dalam bangsa melainkan diantara bangsa-bangsa. Terlenanya Pers Nasional oleh musim Pers Ideologis Parpol dan Ormas, serta musim Pers industri selama tujuh dekade, membuat ketajamannya sebagai rahim yang mengandung ide kebangsaan dimasa lalu dan Pers Perlawanan di masa revolusi menjadi berkurang bahkan hilang sama sekali.
Di era Pers Digital bahkan tak ditemukan lagi karakter integritas dalam memandang sebuah persoalan yang tertuang dalam tulisan tajuk. Pers digital yang menetap di ranah digital Google atau YouTube, adalah tempat untuk individual. Karena kita belum pernah duduk meneliti dan menganalisa sejatinya efek dari Pers Digital itu sebenarnya. Ketika wartawan secara sadar atau tak sadar telah beralih fungsi ke Pers Humas yang tak lagi memiliki kemandirian financial dan independensi.(amd)
Bagikan artikel ini



