Kajian Ilmiah Pers (8) Bangsa ini Dilahirkan oleh Pena Pers
NABIRE - Empat puluh lima tahun sebelum Indonesia merdeka, di era kebangkitan nasional, perjuangan perlawanan bersenjata dirubah ke perjuangan tulisan. Pergerakan kebangkitan nasional dikawal oleh Pena Pers.

NABIRE - Empat puluh lima tahun sebelum Indonesia merdeka, di era kebangkitan nasional, perjuangan perlawanan bersenjata dirubah ke perjuangan tulisan. Pergerakan kebangkitan nasional dikawal oleh Pena Pers. Bangsa nusantara yang berkarakter gotong royong mempunyai DNA Falsafah Pancasila. Bahkan proklamator Soekarno dan Hatta diadili oleh pemerintah Belanda, karena keduanya menulis di media.
Tokoh pejuang pers di awal abad dua puluh adalah Tirto Adhi Suryo. Dia adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.
Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 7 Desember 1918.
Jejak wartawan era kebangkitan nasional pada media-media pribumi sangat jelas. Untuk itulah maka terbentuknya PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) tahun 1946 langsung mengambil posisi perlawanan dengan media penjajah. Tirto merubah pergerakan bersenjata ke ujung pena.
Pena pers lah tempat rahim yang mengandung DNA bangsa ini, yakni falsafah Pancasila. Melalui pidato empat orang, yakni Supomo, Ki Bagus Hadikusumo, Sukarno dan Muhamad Yamin, pada 1 Juni 1945 lahirlah Pancasila sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Setelah melalui mistisisme, riyadah dari Kiai Hasyim Asy'ari.
Sejarah bangsa kita di ujung pena pers harus kita konstruksi ulang menghadapi era baru yang sedang bergulir.
Di tangan wartawan sekarang seluruh rentetan perjalanan pers kebangsaan ini perlu dikilas balik. Sementara DNA pers perlawanan yang lahir 9 Februari 1946, perlu dihidupkan kembali khittahnya.
Pers kita perlu menghayati hakikat perjalanan bangsa sampai delapan dekade ini, agar kita dapat keluar dari jeratan pemikiran Barat yang mulai mendominasi sejak Orba (Orde Baru) hingga sekarang.(amd)
Bagikan artikel ini



