NABIRE - Kenapa pers nasional kita harus mengacu kepada teori disposesi pers? Jawabnya adalah karena bangsa Indonesia terlahir dari genetika yang namanya falsafah Pancasila. Dalam narasi lima sila terdapat dimensi-dimensi metafisika yang tidak mungkin dijelaskan oleh landasan pemikiran barat yang positifistik dan materialistik. Kebenaran versi filsafat barat adalah sesuatu haruslah dapat terindra untuk dikatakan sesuatu itu ada.

Sehingga, sila pertama yang metafisis tidaklah mungkin untuk dibahas menggunakan filsafat barat. Dari situlah, maka pers nasional kita tidak mungkin mengikuti pers barat yang mengadobsi hanya pendekatan indrawi dalam upaya memverifikasi nilai pengetahuan (Epistomologi).

Apakah yang dinamakan teori diposesi pers itu? Dalam teori diposesi adanya pengetahuan awal berupa subjek (Konsepsi), maupun pengetahuan penilaian melalui predikasi (Afirmasi) tidak memandang adanya dualisme terhadap adanya fisika dan metafisika, melainkan suatu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Penulisan berita featurest yang melibatkan perasaan seorang wartawan dan perasaan pembacanya, jelas disitu (perasaan itu) adalah sesuatu yang metafisis.

Bahkan ilmu pengetahuan manusia itu sendiri adalah sesuatu yang metafisis. Ketika seorang wartawan mengetahui suatu subjek atau konsepsi, pengetahuannya itu adalah bernilai metafisik. Ketika seorang wartawan melakukan verifikasi untuk memberikan nilai pada subjek atau konsepsi tadi baik melalui verifikasi konfirmasi, verifikasi investigasi maupun verifikasi observasi. Ketika dia memberikan penilaian, maka info penilaian pengetahuan itu berupa nilai metafisika. Apakah seorang Habibie yang memiliki ilmu pengetahuan tentang pesawat timbangannya bertambah berat sehingga pesawat yang dibuatnya tidak bisa mengangkutnya? Tentu saja tidak. Ilmu pengetahuan Habibie tidak memiliki berat, karena ilmu pengetahuan Habibie bukan materi atau fisik. Melainkan

ilmu pengetahuan Habibie adalah metafisika. Teori disposesi sesungguhnya tidak bertentangan dengan nilainilai agama. Misalkan dua kalimat syahadat didalam Islam aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, makna Allah disini metafisika, karena Dia tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Sedangkan syahadat kedua, Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, subjek Muhammad merupakan subjek fisika Muhammad adalah makhluk sejarah yang dilahirkan oleh kedua orang tuanya di sebuah tempat yang namanya Mekkah dan memiliki keturunan. Dalam teori disposesi fisika dan metafisika dimaknai sebagai satu kesatuan. Begitupun frasa didalam agama Kristen yang berbunyi tidak akan sampai kepada Allah tanpa melalui Aku. Disini Allah sebagai metafisika dan aku (Yesus) adalah fisika, makhluk sejarah yang dilahirkan oleh seorang ibu di suatu tempat dan hadir di tengah masyarakat.

Perbedaan tentang kualitas dan unitas sudah berlangsung sejak lama di Yunani pada jaman Plato dan Aristoteles. Plato menilai alam ide (Arketif) adalah sesuatu yang tersendiri dan alam realitas adalah sesuatu yang lain. Sedangkan pandangan Aristoteles cenderung pada melihat keduanya (Ide dan Realitas) adalah satu kesatuan. Filsafat modern barat diawali oleh tokohnya Rene Des Cartes dengan frasa terkenalnya aku berfikir, maka aku ada. Disana dia meragukan segala sesuatu terkecuali keraguan itu dan dirinya sebagai si peragu. Disusul filsuf barat lainnya Imanuel Kant. Dia melahirkan teori tesis antitesis dan sintesis disusul berikutnya oleh filsuf Jhon Locke, August Comte yang melahirkan filsafat positifis.

Semuanya mengarah pada penghilangan metafisika dan menyimpulkan bahwa segalanya bisa dikatakan eksis apabila dapat diverifikasi secara indrawi. Sedangkan Ketuhanan yang Maha Esa tidak bisa diverifikasi secara indrawi. Pers barat terjebak kedalam profanitas dan menganggap sakralitas sebagai hanya dongeng, omong kosong belaka. Karena itu pers barat jatuh kedalam proses sekularisasi, dalam proses sekularisasi dimensi sosial keagamaan menjadi terkikis, dan menyudutkan keagamaan kedalam ruang-ruang privat. Sehingga agama menghilang dari ruang sosial, entah itu melalui waterdown maupun doubletop. Dalam waterdown, seperti sesendok sirup yang dicampur satu drum air kelayakan nilai agama menjadi tipis. Dalam kasus Doubletop Agama hanya ditonjolkan s i m b o l- s i m b o l n y a , sedangkan isinya menjadi bertolak belakang. Dalam keadaan seperti itu pers barat jatuh kedalam pragmatisme, alat framing dan menjadi bagian dari kejahatan penjajahan yang hegemonis.

Sehingga pers barat seringkali melakukan tindakan standar ganda dan terjatuh dalam hipokrisi (kemunafikan). Pers nasional dalam bimbingan disposesi pers adalah sesuatu yang bersifat urgen, melihat kita sebagai bangsa yang berketuhanan. Dalam pers nasional kita ruang-ruang anti metafisika harus ditiadakan agar kita masih dapat menulis picers yang masih melibatkan emosi dalam perasaan dan tidak menghilangkan ilmu pengetahuan awal pada konsepsi (subjek) dan ilmu pengetahuan penilaian berupa afirmasi (prediksi) sebagai produk pers yang kita tulis setiap hari.

Meskipun sejarah pers nasional diawali oleh adanya tokoh Adinegoro yang menimba ilmu publisistik di Jerman, tentu kita tidak dapat menyakal, bahwa kita adalah sebuah bangsa yang lahir dari genetika falsafah Pancasila. Untuk itu, seyogyanya wartawan Indonesia perlu dapat merumuskan pondasi dasar teori disposesi kedalam upgrade kaidah jurnalistik.

Dengan memiliki teori disposesi pers dalam pers nasional kita, maka kita telah melakukan yang fundamental terhadap pemikiran barat yang sekarang terbukti sedang mengalami keruntuhan, terverifikasi oleh tiga perang, yakni Ukraina, Gaza dan Laut Merah.(amd)