SUMBER layak didalam pers adalah terdiri dari tiga aspek, yaitu posisi atau jabatan, profesi atau keahlian dan proporsi atau keterkaitan. "Seorang wartawan dituntut memiliki hubungan banyak dengan sumber-sumber berita. Ketika seorang wartawan hendak mencari sumber berita, maka sedikitnya sumber berita itu akan terkait dengan posisi atau jabatannya sedangkan yang terkait dengan sumber berita yang menyangkut profesi, yaitu ketika kita menanyakan kesehatan kepada dokter, masalah pendidikan kepada guru atau masalah keagamaan kepada para ahli agama. Adapun sumber berita yang terkait proporsi itu siapapun yang memiliki keterhubungan dengan peristiwa, masalah atau fenomena yang akan menjadi tema berita," papar Abdul Munib.

Membahas tentang apakah bahasa pers itu, dijelaskannya bahwa bahasa pers cenderung kepada ideom umum. Yakni prekeunesi bahasa yang dapat dipahami oleh kalangan luar masyarakat dengan menyederhanakan bahasa yang tercakup dalam ideom terminologi. Karena setiap terminologi itu memiliki ideom bahasanya tersendiri yang hanya diketahui oleh kalangan tertentu dalam disiplin ilmu itu.

Dijelaskan, bahwa istilah-istilah yang muncul dalam setiap terminologi keilmuan terdapat kata-kata yang masih asing di masyarakat pada umunya. "Sehingga sebaiknya para wartawan meminta penjelasan terhadap sumber ketika menjumpai istilah-istilah rumit, agar dengan itu wartawan dapat menguraikannya melalui bahasa yang dapat yang dipahami oleh masyarakat," jelasnya.

Adapun logika pers itu terkait dengan pemahaman wartawan terhadap subjek yang merupakan konsepsi dan predikat sebagai afirmasi atau penilaian, sehingga wartawan dapat memastikan struktur proposisi yang benar berdasarkan liputan di lapangan.

Ketika seorang wartawan telah memahami kedudukan konsepsi dan afirmasi dari materi berita yang akan diliput dan ditulis, maka kerangka dasar sebuah berita setengahnya sudah tercapai selebihnya hanya informasi-informasi pelengkap.

"Narasi pers harus dapat mudah dipahami oleh pembaca. Sedangkan sebuah berita terdiri dari beberapa alinea, dan alinea terdiri dari beberapa kalimat sedangkan kalimat terdiri dari beberapa kata. Sehingga seorang wartawan harus sadar terhadap kata yang mewakili konsepsi dan kata yang mewakili afirmasi, karena penilaian ada pada afirmasi, sehingga ketika setiap kalimat itu dengan seksama mudah dipahami oleh pembaca seluruh kesatuan beritapun akan mudah dipahami substansinya," tambahnya.

Menjawab pertanyaan Samuel Ali, tentang pertanyaan wartawan terhadap sumber, lelaki yang sudah menyandang profesi wartawan selama tiga puluh lima tahun itu menjelaskan, seorang wartawan harus benar-benar memahami apa yang dinamakan pertanyaan pembuka dan pertanyaan penutup. Dalam kasus pertanyaan terbuka seorang wartawan memiliki waktu yang banyak dalam wawancara tatap muka, sehingga dengan pertanyaan sedikit yang umum seorang sumber dapat menjelaskan panjang lebar.

Kebalikannya tentang pertanyaan tertutup, seorang wartawan dan sumbernya memiliki waktu yang sempit, misalnya antara pintu kantor sampai ke mobil yang dia mau naik, pada saat itu seorang wartawan harus memiliki penguasaan yang utuh tentang sebuah masalah atau peristiwa, sehingga kepada sumber ditanyakan pertanyaan tertutup yang mengerucut. Maka dengan jawaban ya atau tidak dari sumber berita si wartawan sudah mendapat satu berita untuk dimuat keesokan harinya.

"Soal pertanyaan pembuka dan tertutup kadang luput dari perhatian seorang wartawan padahal ini adalah sesuatu yang sangat penting dalam pers. Ketika seorang wartawan memiliki peluang waktu wawancara khusus dengan sumbernya siapkan catatan dan rekaman untuk menggali sebanyak-banyaknya informasi dari sumber. Biarkan dia menceritakan panjang lebar tidak usah diusik oleh pertanyaan susulan. Kesempatan waktu luang yang banyak sebaiknya digunakan untuk mengeksplorasi sebanyak mungkin informasi dari dia. Berbeda dengan pertanyaan tertutup yang sebelumnya seorang wartawan harus menguasai secara utuh sebuah masalah, sehingga sumber hanya akan mengkerucut kepada jawab-jawab pendek. Sehingga dalam waktu sempitpun seorang wartawan akan bisa mendapat berita," jelasnya.

Yang sering terabaikan dari seorang wartawan adalah pemahamannya mengenai huruf besar atau kapital letter. Huruf besar itu terletak pada nama misalnya Opal 'O' nya besar Samuel 'S' nya besar juga untuk singkatan misalnya DPR. Selain itu, juga masalah awalan di kapan, dia disambung dan dipisah awalan di harus dipisah ketika menunjukkan tempat contohnya di rumah, di pasar dan ditulis secara tersambung ketika tidak terkait dengan tempat, misalkan ditulis, dipukul itu disambung.

"Karena seorang wartawan berkaitan dengan bahasa yang dia gunakan untuk menulis setiap saat, maka seyogyanya pengetahuan dasar tentang Bahasa Indonesia dapat dipahami olehnya. Misalnya soal penulis huruf besar soal tanda baca, soal titik koma, soal tanda kalimat langsung dan lain sebagainya," imbuhnya.(amd)