Kajian Ilmiah Pers (19) Memahami Karakter Media Digital
NABIRE - Dewan Pers sampai mengakomodir tiga organisasi perusahaan Media Cyber sebagai konstituennya, yakni Serikat Media Cyber Indonesia (SMSI), Asosiasi Media Cyber Indonesia (AMSI) dan Jaringan Media Cyber Indonesia (JMSI). Itu artinya, Dewan Pers, mengafirmasi eksistensi atau keberadaan media digital atau Cyber.

NABIRE - Dewan Pers sampai mengakomodir tiga organisasi perusahaan Media Cyber sebagai konstituennya, yakni Serikat Media Cyber Indonesia (SMSI), Asosiasi Media Cyber Indonesia (AMSI) dan Jaringan Media Cyber Indonesia (JMSI). Itu artinya, Dewan Pers, mengafirmasi eksistensi atau keberadaan media digital atau Cyber. Bahkan langsung sibuk untuk memverifikasi perusahaan Pers Dotkom itu baik secara ferivikasi administratif maupun secara faktual.
Permasalahannya adalah, apakah keberadaan Media Cyber itu layak menyandang nama Pers, khususnya ditinjau dari sudut hilangnya kemandirian ekonomi yang akan berefek secara aksiomatik terhadap independensi? Sedangkan independen adalah merupakan hal yang terkait mutlak dengan kemerdekaan Pers itu sendiri? Dua pertanyaan berat diatas menggantung tanpa tersedia jawabannya. Sedangkan amanat sebenarnya yang disandang Dewan Pers, menurut UU nomor 40 tahun1999 tentang Pers adalah meyakinkan bahwa kemerdekaan Pers itu tetap eksis, nyata dan baik-baik saja.
Level kemerdekaan pers yang semakin melemah seiring tiadanya kemandirian ekonomi media Dotkom. Atau dalam istilah lain berita wartawan tidak dapat terkapitalisasi sebagaimana di era media cetak, sehingga menjadi persoalan serius bagi kelayakan ekonomis suatu media.
Itu karena kita tidak pernah duduk baik sejak era media digital untuk menyamakan persepsi ini fenomena apa? Tentu mesin pencari Google itu tidak bisa disamakan eksistensinya seperti mesin cetak. Karena ada perbedaan karakter yang jauh sekali. Terutama dalam potensi menghasilkan profit. Berita wartawan tak bisa terkapitalisasi dan iklan diambil sama mesin pencari.
Karakter mesin pencari Google memiliki fungsi sebagai mesin pencari, yang sebelumnya ia hanya mesin pencari di kampus untuk menara perpustakaan dan administrasi kampus. Takdir sejarah telah menobatkannya sebagai mesin pencari yang mengalahkan Yahoo pada waktu itu. Dan Pers Nasional menyandarkan dirinya disitu dengan harapan pada mulanya, tapi tak kunjung datang. Pers nasional hanya jadi setetes data dalam lautan data yang disimpan di mesin pencari.
Karakter lain media digital adalah tidak bisa secara masif datang ke rumah pembaca melalui langganan atau eceran seperti pada saat menjadi koran cetak. Dia hanya nongol kalau dipanggil melalui kata kuncinya. Ibaratnya cetak dulu tinggal di jalan utama, di media digital tinggal di gang sempit yang bisa ditemui kalau dicari.
Sehingga over suplai media Dotkom menjadikan ia tak punya harga secara hukum ekonomi. Secara otoritas, data media ada ditangan pihak lain, dengan aturan main pihak lain pula. Media nasional memasuki jebakan Batman yang hanya pepesan kosong. Bahkan untuk dapat pepesan kosong pun harus dibuatkan Perseroan Terbatas (PT).
Mesin pencari itu bagaimanapun dia efisien tak akan bisa menggantikan kedudukan mesin cetak bagi Pers. Mesin cetak bagi Pers adalah ibu kandung, sedangkan mesin pencari ibarat ibu tiri yang kejam tidak memberikan penghidupan yang layak bagi penghuninya.(amd)
Bagikan artikel ini



