Kajian Ilmiah Pers (18) Platform Wewe Dotkom, Sampai Wewe Gombel
NABIRE - Seharusnya sudah ada kajian khusus untuk mengetahui platform digital pengganti cetak itu hakikatnya seperti apa. Bukankah itu mesin pencari saja yang oleh kita diandaikan sebagai pengganti mesin cetak.

NABIRE - Seharusnya sudah ada kajian khusus untuk mengetahui platform digital pengganti cetak itu hakikatnya seperti apa. Bukankah itu mesin pencari saja yang oleh kita diandaikan sebagai pengganti mesin cetak. Mbah Google atau Wewe Dotkom sendiri mungkin tidak berniat untuk secara khusus mengganti mesin yang lima abad lalu ditemukan oleh Johanes Gutenberg itu.
Revolusi digital yang orang-orang namakan disrupsi ini sudah satu dekade belakang jadi trending topik. Bahkan waktu dunia dikagetkan Covid-19 masyarakat dunia dipesonakan masuk jaman digital. Dunia bisnis transportasi, pusat perbelanjaan, periklanan dan kejuruan berubah total karena adanya digital dan artificial intelligence. Termasuk bisnis media cetak, pada gulung tikar karena pembaca koran pindah jadi pembaca hape.
Masyarakat Pers Nasional berbondong-bondong masuk ke platform digital. Media cetak masuk ke Google. Media televisi masuk YouTube. Semula mereka mengira ini eranya wartawan yang kurang modal bisa punya media sendiri. Maka bagai cendaaan di musim hujan marak lah bermunculan media Dotkom atau di televisi Youtube. Bahkan Dewan Pers sendiri kewalahan untuk menertibkan mereka yang buka wewe Dotkom. Untuk bisa diakui pers yang syah harus buat Perseroan Terbatas (PT), disamping Google memungut uang domain dan hosting yang dibayar pertahun.
Google ditemukan Larry Page dan Sergey Brin sebagai mesin pencari, semula untuk meningkatkan mesin pencari di kampusnya Stanford Univerciry yang mulai rusak-rusak. Semula Google bernama BackRub yang dioperasikan melalui server yang ada di kampus mereka itu. Dari situlah Google berasal mula sampai sekarang jadi tempat bersarangnya belasan ribu media di Indonesia yang migrasi dari cetak.
Semenjak Andy Rubin menemukan Android, dan berbondong-bondong pembaca beralih ke hape, sejak itu mulai jarang orang nenteng koran. Meski Pers dalam cetak dan dalam digital sama dari sisi mediumnya, namun banyak karakter yang jauh berbeda. Pertama soal over suplay, kedua berita tak dapat dikapitalisasi, ketiga organisasi redaksi semakin pupus. Hanya dipengaruhi berita spotnews didapat dari saling copyfaste antar wartawan.
Lari dari pers cetak ke dalam pangkuan Wewe Dotkom, Pers seperti masuk dalam pelukan Wewe Gombel. Makhluk nokturnal yang biasa menculik dan menyembunyikan anak-anak karena mereka terlantar. Kini wartawan Indonesia terlantar di era Pers Digital. Kemerdekaanya hilang karena kemandirian ekonomi hilang di era digital. Dengan punya media Dotkom ia bisa mencari pejabat atau orang kaya baik hati yang dapat mengapresiasi beritanya. Naif dan mengenaskan. Apakah sejarah kita akan berakhir dikehinaan seperti ini. Pers yang dulu mengandung gagasan kebangsaan di era kebangkitan nasional, kini seperti pengemis atau tukang semir yang menggosok sepatu tuan nya hanya mengkilap.
Menurut Munib, Pers tak boleh berakhir di situ. Katanya, Pers membutuhkan kerendahan jiwa duduk bersama membaca realitas hari ini. Jangan ada lagi yang menganggap ini baik-baik saja bagi Pers. Untuk tetap bisa merdeka barangkali Pers harus melakukan mutasi genetik agar bisa tetap hidup dengan kemerdekaan.(amd)
Bagikan artikel ini



