NABIRE - Kerajaan pers cetak telah runtuh digantikan Pers Digital. Persoalannya karakter digital memiliki naluri baru, yakni membuang sekat-sekat fisika dan menggelar dunia maya yang ada di genggaman hape. Tak ada lagi fisika berbentuk tinta dan kertas, hasil proses pressing (printing) atau cetak. Dari tekanan silinder mesin cetak melakukan pressing terhadap plat, maka jadilah cetakan. Dari situ kata Pers berasal mula.

Awal era cetak di Jerman, dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johanes Gutenberg, berbarengan dengan gerakan protestan yang memisahkan diri dari Katolik.

Mulai dari itu Alkitab dicetak banyak. Demikian pun Al Quran, dapat dicetak banyak sejak adanya teknologi printing ini.

Kata pers, diambil dari proses fisik media cetak yang dipress atau ditekan. Maka ketika sekarang media cetak sudah ditelan jaman, apakah pers masih akan hidup di medium (platform) digital. Bagaimana era digital yang menelan banyak korban disrupsi. Meluluhlantakkan tatanan bisnis lama dan melahirkan tatanan baru.

Teknologi digital memiliki karakter mendisrupsi. Yakni merobohkan seluruh tatanan yang berbasis fisika yang terikat ruang waktu dan mensentralistik seluruhnya kedalam aplikasi. Misalnya dulu orang membeli tiket ke perusahaan travel sekarang cukup tekan aplikasi treveloka semua urusan tiket beres. Itu juga yang terjadi di media. Dulu mendirikan sebuah media harus ada infrastruktur mesin cetak, kini untuk punya media dotkom hanya perlu bayar domain dan hosting. Maka marak lah jumlah media, secara hukum ekonomi oversuplay.

Disisi lain, artificial intellegence (AI) menggantikan manusia di hampir seluruh bidang skill. Robot-robot bisa disuruh apa saja. Montir tak lagi dibutuhkan karena semua pemeriksaan kendaraan pakai komputer. AI juga bisa disuruh membuat berita seperti wartawan.

Jika kita tidak mempunyai dasar metafisika, maka yang akan terjadi adalah robot-robot dipercaya akan menggantikan manusia di seluruh bidang kehidupan. Akan banyak masyarakat yang terpesona oleh adanya lompatan teknologi itu, akan merasa terkurung dan terhimpit.

Kajian ilmiah pers, yang mencoba mengupgrade kaidah pers, dan menempatkan posisinya kembali pada hakikat, semangat dan sejarah pers dalam bangsa Indonesia ini, justru hendak bersikap tegas. Bahwa semua capaian ilmu dan teknologi itu hanya apapun adanya dia, adalah alat semata. Dan pemegang alatnya adalah kita manusia. Yang dari dalamnya masih punya potensi cinta kebijaksanaan atau hikmat.

Dengan menemukan hakikat jatidiri bangsa yakni gotong royong, maka dengan kata kunci itu kita akan dapatkan sebuah model pers nasional yang layak dijamannya.(amd)