Jalan Tembus, Intan Jaya Tak Terisolir Lagi
SUGAPA – Perjuangan pemerintah Kabupaten Intan Jaya untuk merubah status Kabupaten Intan Jaya menjadi daerah yang tidak terisolir, ter
Bagikan
SUGAPA – Perjuangan pemerintah Kabupaten Intan Jaya untuk merubah status Kabupaten Intan Jaya menjadi daerah yang tidak terisolir, terus terlihat buktinya. Pembangunan infrastruktur berupa jalan dan jembatan terus digiatkan oleh pemerintah daerah setempat agar sendi-sendi kehidupan di Kabupaten Intan Jaya tak hanya bergantung pada satu-satunya sarana akses transportasi yakni melalui jalur udara. Kini jalan darat sudah tembus menghubungkan Kabupaten Intan Jaya dengan Kabupaten Paniai. Bupati Natalis Tabuni, SS, M.Si, sudah melakukan kunjungan kerja (Kunker) langsung meninjau ruas jalan yang menghubungkan dua kabupaten itu. Berjam-jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor (ojek, red) Bupati Natalis Tabuni akhirnya tembus hingga Enarotali, Kabupaten Paniai. Disinggung nekadnya naik ojek memantau pembangunan jalan itu, Bupati Natalis mengaku jika dirinya selaku bupati tidak memerintahkan kepada instansi teknis tapi langsung memantau sendiri kunjungan kerja secara riil. Dalam perjalannya, kata bupati, dirinya bisa langsung melihat kendala-kendala dan keadaan jalan dan jembatan yang sebenarnya. Dengan demikian, lanjut bupati, ada gambaran kedepan supaya ada perbaikan pembangunan yang bisa dilakukan dalam program-program kedepan. Alasan kedua, lanjut dia, apa yang dilakukannya itu memberikan informasi kepada publik bahwa Kabupaten Intan Jaya dengan Enaro (Kabupaten Paniai) tidak terisolir lagi, tetapi sudah tembus dengan jalan darat. “Kalau bupati sudah lewat dengan ojek sepanjang 250an kilometer itu, apalagi masyarakat sudah tentu bisa tembus dengan aman,” ujarnya. Lebih lanjut dituturkan bupati kepada sejumlah wartawan di Nabire beberapa hari lalu, Kunker Bupati Intan Jaya juga dengan melibatkan Ketua DPRD Intan Jaya, Pastor Paroki dan Dewan Paroki, anggota Timsus dan anggota Polsek Sugapa. Perjalanan sepanjang sekitar 250 kilometer ditempuh dengan waktu sekitar 8 jam perjananan. Rombongan bertolak dari Sugapa pada pukul 08.30 pagi dan tiba di Enaro pada pukul 16.00 sore. “Kami jalan lumayan santai dan sambil singgah-singgah di sejumlah titik ketika bertemu warga dan anak-anak sekolah,” ujarnya. Ruas jalan yang dilalui rombongan Bupati Intan Jaya ini adalah jalan pengerasan. Sekedar diketahui, ada jalan yang dibangun pemerintah kabupaten sejak tahun 2011 sampai dengan 2016 itu dari Sugapa sampai Wandai. Saat ini kondisinya banyak jalan terputus karena kurang pemeliharaan, demikian juga ada jembatan yang terputus, terutama jembatan yang paling berat adalah Jembatan Kali Kemabu dengan bentangan sekitar 100 meter. “Soal pembangunan jembatan, untuk abutmen bagian timur itu sudah dibangun pada tahun 2015 dan abutmen bagian barat itu dibangun tahun 2017. Sekarang badan jembatan itu belum terbangun. Setelah kami pantau kemarin memang harus ada kaki jembatan ditengah-tengah sungai, karena bentangan jembatan yang cukup panjang,” ujarnya. Antisipasi Jalan Tembus Lebih lanjut dipaparkan Bupati Natalis Tabuni, banyak manfaat yang didapat pemerintah dan masyarakat Kabupaten Intan Jaya ketika jalan sudah tembus. Dengan adanya jalan tesmbus, manfaat ekonomi yang didapat bisa berupa menekan harga pokok, namun demikian ada juga dampak negative dengan adanya jalan tembus. Dipaparkan bupati, pada prinsipnya selama ini yang diharapkan oleh masyarakat Intan Jaya kepada pemerintah kabupaten untuk menekan harga barang dan harga bangunan yang terjadi di Intan Jaya. “Selama ini kita ketahui bahwa harga semen di Intan Jaya bisa mencapai 1,5 juta per sak. Artinya, harga sembako cukup tinggi, harga BBM cukup tinggi, sementara IPMnya rendah, dan pendapatan per kapitanya juga rendah. Ini sesuatu yang ironis selama ini dan itu betul-betul pemerintah ketahui dan sadar bahwa itu terjadi karena hanya transportasi satu-satunya melalui jalur udara, yang selama ini hanya termuat paling maksimal 1,2 ton per flight dan ini yang membuat selama ini terkendala untuk Intan Jaya harga barang begitu tinggi,” paparnya. Harapannya dengan terhubungnya jalan darat, dengan sendirinya harga ekonomi, harga pembangunan, harga kehidupan ini bisa normal. Dengan demikian pembangunan jalan ini menjadi vital. “Kita ketahui pasti banyak manfaat, baik itu mobilisasi penduduk, mobilisasi pembangunan, mobilisasi logistik dan lainnya. Tetapi juga kita tidak bisa pungkiri bahwa ada arus-arus katakan yang negativ juga masuk. Misalnya penjualan Miras termasuk juga peredaran-peredaran senjata illegal. Ini mungkin terjadi ketika jalan darat sudah tembus. Dan hal-hal lain yang bisa berpotensi berdampak buruk,” kata bupati. Oleh karena itu, lanjut bupati, pihaknya berharap walaupun ada segelintir orang yang memang menolak kehadiran Polres di Intan Jaya, tapi kita ketahui bersama pembangunan Polres dan kehadiran TNI dan Polri di suatu daerah itu merupakan kerangka Negara dan itu merupakan tata negara. Negara ini dibangun dengan adanya satu kerangka, dimana di provinsi ada Polda dan Kodam, di kabupaten dan kotamadya juga ada Polres dan Kodim. Jadi tidak ada istilah jaminannya dari masyarakat melalui dialog-dialog, tapi ini adalah kerangka negara yang harus ada di suatu daerah. “Oleh karena itu kami sudah sediakan lokasi pembangunan kantor untuk persiapan Polres. Saya pikir dalam waktu dekat akan kami upayakan pembanguna Polres Persiapan,” kata dia. Regulasi daerah lainnya, tetang pelarangan peredaran dan penjualan Miras di Intan Jaya sudah ada Perdanya dan kini tinggal aplikasinya di lapangan. Memang dalam kapasitas Polsek dan Koramil saja itu tidak bisa kita maksimalkan untuk keamanan ini. “Saya yakin kedepan jika sudah ada pembukaan beberapa pos disana kemudian juga dengan pembangunan Polres akan lebih maksimal untuk menangani hal-hal semacam ini,” tuturnya. (ros)
Bagikan artikel ini


