Inovasi Lokal di Nabire: Sabut Kelapa Jadi Peluang Ekonomi Baru

NABIRE - Semangat inovasi dan pemberdayaan masyarakat tengah digalakkan di Warbak, Nabire, melalui program pendampingan pembuatan Koko Fiber (serat sabut kelapa) dan briket. Inisiatif ini bertujuan mengubah limbah sabut kelapa yang selama ini kurang termanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, sekaligus meningkatkan pendapatan warga setempat.
Cornelina, selaku narasumber sekaligus pendamping pelaku usaha IKM, mengungkapkan langkah-langkah ke depan telah dirancang dengan matang. Meskipun pendampingan tatap muka akan berakhir, ia berkomitmen untuk terus membimbing masyarakat Warbak, memastikan keberlanjutan program tersebut.
Untuk ibu-ibu, fokus utamanya adalah pemanfaatan sabut kelapa menjadi produk jadi seperti sapu dan media tanam. Produk-produk ini memiliki pasar yang jelas dan dibutuhkan, baik untuk keperluan rumah tangga maupun sektor pertanian.
Sementara itu, bapak-bapak difokuskan pada proses pembuatan briket. Briket ini memiliki beragam kegunaan, mulai dari bahan bakar untuk membakar ikan hingga potensi pemanfaatan di masa depan untuk pembuatan kecap.
Selain itu, potensi pengembangan asap cair juga menjadi perhatian. "Langkahnya setelah mereka proses, jadi mereka bagaimana untuk memasarkan sehingga cepat terjual dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat," ujar Cornelina saat diwawancarai di Worbak, Senin (27/10/2025).

Hal ini menegaskan bahwa aspek pemasaran menjadi kunci keberhasilan program ini. Mengenai kendala dalam proses pembuatan briket, Cornelina menyebut masalah listrik menjadi satu-satunya penghalang minor. Keterbatasan daya listrik menghambat penggunaan mesin secara optimal, terutama mesin penggiling (gulen) yang seharusnya dapat mempercepat proses produksi. Meski demikian, produksi tetap berjalan meski harus menggunakan cara manual.
Harapan besar diletakkan pada program ini, terutama terkait produksi sapu. Cornelina berharap, ke depannya sapu tidak lagi didatangkan dari Jawa, melainkan diproduksi secara mandiri oleh masyarakat Warbak. Ia juga menjanjikan bantuan dalam memasarkan produk, termasuk media tanam yang telah dibuat.
Paling penting, pendampingan ini juga mendorong warga untuk menciptakan brand atau merek dagang sendiri. "Sehingga mereka mengenal bahwa masyarakat di Nabire tahu bahwa itu memang produk hasil dari Warbak, bukan dari Jawa," tutup Cornelina, menekankan pentingnya identitas produk lokal dan kebanggaan akan hasil karya sendiri.(sam)
Bagikan artikel ini



