Inflasi Papua Tengah Tertinggi se-Indonesia
NABIRE - Badan Pusat Statistik (BPS) Nabire merilis pada tahun 2024, bulan Mei, inflasi di Provinsi Papua Tengah paling tertinggi se-Indonesia, dari tahun ke tahun dengan nilai inflasi 5,39 persen. Artinya, ada kenaikan harga barang-barang sejumlah 5,39 persen dibandingkan tahun 2023.

NABIRE - Badan Pusat Statistik (BPS) Nabire merilis pada tahun 2024, bulan Mei, inflasi di Provinsi Papua Tengah paling tertinggi se-Indonesia, dari tahun ke tahun dengan nilai inflasi 5,39 persen. Artinya, ada kenaikan harga barang-barang sejumlah 5,39 persen dibandingkan tahun 2023.
Inflasi kenaikan harga atau perubahan harga dengan hitung tiga bentuk, yakni pertama inflasi tahun ke tahun. Kedua inflasi bulan ke bulan dan ketiga inflasi bulan ke hari. Sebelum masuk inflasi melakukan survei pendahuluan.
Ketua Tim BPS Kabupaten Nabire, Agus Adam mengatakan, survei biaya hidup itu menentukan tahun dasar. Di tahun 2022 dilakukan survei biaya hidup untuk mengukur data dasar yanng dilakukan selama setahun, katanya usai ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/6/2024).
"Inflasi bulan ke bulan, yakni inflasi bulan Mei dibandingkan dengan bulan April itu senilai 1,43 persen, dan inflasi tahun ke tahun 5,39 persen, pada Provinsi Papua Tengah," katanya.
Inflasi di Provinsi Papua Tengah dipengaruhi, untuk bulan ke bulan kelompok makanan, minuman dan tembakau, penyumbang utamanya adalah cabe rawit, tomat, beras dan bawang merah.
Sebelumnya, dirinya melakukan survei pasar, harga cabe rawit tembus dikisaran harga Rp150 ribu sampai Rp160 ribu per kilo, padahal di Nabire harga normal Rp40 ribu sampai Rp50 ribu, jadi ada peningkatan tiga kali lipat dibandingkan dengan harga normal.
Di Nabire harga cabe rawit tetap meroket, harga bahkan tembus sampai Rp160 ribu per bulan Mei kemarin. Kenaikan harga ini dipengaruhi beberapa faktor, bisa dengan kelangkaan barang, belum panen. Kemudian stok terbatas, terus adanya curah hujan yang tinggi, gagal panen dan terlalu banyak pengiriman ke pedalaman.
"Untuk harga tomat tidak beda jauh, harga normal tomat sekitar Rp20 ribu sampai Rp30 ribu, dan terakhir ada kenaikan harga Rp60 ribu per kilo, kenaikan sekitar ada dua kali lipat," ucapnya.
Agus Adam menyarankan, untuk pemerintah daerah dan provinsi menetapkan atau menentukan harga eceran tertinggi, jadi pedagang itu akan berpatokan harga yang ditetapkan oleh pemerintah, juga melakukan Sidak pasar, melihat ketersediaan stok barang di pasar.
"BPS bukannya sebagai eksekutor, hanya sebagai tukang foto hanya bisa menyampaikan kondisi harga barang di pasar, terkait pengambilan kebijakan kembali ke pemerintah daerah," ujarnya.
Lanjut dia, untuk inflasi di Nabire, jadi di Provinsi Papua Tengah itu inflasi tertinggi di Indonesia dari tahun ke tahun. Dimana nilai tersebut, paling besar dipengaruhi oleh inflasi yang terjadi di Kabupaten Nabire. Di Papua Tengah sendiri ada dua kota yang mengalami inflasi, diantaranya Kabupaten Mimika dan Kabupaten Nabire.
Dipaparkannya, untuk di Nabire sendiri, inflasi dari tahun ke tahun itu tertinggi se Indonesia sekitar 7,58 persen, sedangkan dari bulan ke bulan 1,28 persen. Nilai tersebut dipengaruhi oleh makanan, minuman dan tembakau, dimana penyumbang utamanya adalah cabe rawit, tomat, bawang merah, pisang dan bawang putih.
"Kabupaten Nabire sejak bulan Maret sampai bulan Mei selalu menduduki tiga besar dalam hal inflasi," pungkasnya.(sam)
Bagikan artikel ini


