Imlek 2026, Kepala Suku Meepago Serukan Perlunya Perdamaian Bermartabat dan Bebas Tindakan Negatif

NABIRE - Melalui Perayaan Tahun Baru Imlek 2026, Kepala Suku Besar Wilayah Adat Meepago, Melkias Keiya, SH, menyampaikan seruan resmi kepada seluruh masyarakat Papua Tengah, khususnya masyarakat adat di wilayah Meepago untuk menyambut dan merayakan Imlek dengan penuh sukacita, kedamaian serta tanggung jawab moral dan sosial.
Dalam keterangan kepada Papuapos Nabire, Selasa (17/2), melalui WhatsApp (WA) pribadinya Keiya menegaskan, tahun baru Imlek merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia yang mencerminkan nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
“Sebagai kepala suku besar wilayah Meepago saya mengajak seluruh masyarakat tanpa memandang suku, agama dan golongan untuk menghormati serta mendukung perayaan Tahun Baru Imlek 2026 dengan penuh toleransi dan semangat persaudaraan. Perayaan ini harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, bukan sebaliknya menimbulkan gesekan sosial,” terangnya.
Untuk itu, ia mengajak marilah berkomitmemn untuk stabilitas dan ketertiban, sehingga Melkias Keiya menekankan, setiap momentum perayaan besar selalu berpotensi menghadirkan dinamika sosial. Oleh karena itu, diperlukan kedewasaan dan kesadaran kolektif untuk mencegah segala bentuk tindakan yang bersifat mutlak dan merugikna diri sendiri maupun masyarakat.
Sehingga Keiya kembali mengingatkan agar masyarakat secara tegas menghindari penyalagunaan minuman keras dan narkotika, tindakan provokatif yang memicu konflik antar warga, ujaran kebencian dan penyebaran hoaks di media sosial, kerusakan fasilitas umum maupun aset negara dan aktifitas yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Dengan demikian menurut Keiya, keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, agama, pemuda dan pemerintah daerah.
Stabilitas keamanan adalah fondasi pembangun, jika situasi aman dan tertib maka aktifitas ekonomi, sosial dan keagamaan dapat berjalan dengan baik.
Untuk itu, sebagai pemimpin di wilayah adat Meepago, Keiya menegaskan bahwa nilai–nilai adat Papua menjunjung tinggi prinsip persaudaraan, penghormatan dan penyelesaian masalah secara bermartabat.
Kembali dirinya mengajak seluruh kepala suku, intelektual Papua serta generasi muda untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga harmoni sosial, sehingga ia juga mengingatkan, Papua Tengah adalah rumah bersama yang dihuni oleh berbagai latar belakang etnis dan agama.
Oleh sebab itu, toleransi dan penghormatan terhadap perayaan keagamaan maupun budaya pihak lain harus menjadi komitmen bersama untuk mendorong solidaritas dan kepedulian sosial, karena momentum Imlek juga dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperkuat solidaritas sosial.(des)
Bagikan artikel ini



