NABIRE — Gejolak krisis geopolitik akibat perang di kawasan Timur Tengah mulai berdampak langsung pada sektor transportasi udara di Indonesia. Lonjakan harga avtur (bahan bakar pesawat) yang mencapai lebih dari 70 persen per 1 April 2026, memicu kenaikan harga tiket pesawat, termasuk pada layanan maskapai Sriwijaya Air untuk rute dari dan ke Nabire.

Hasil penelusuran pada agen tiket online, Minggu (5/4/2026), menunjukkan adanya kenaikan signifikan pada sejumlah rute. Untuk penerbangan Nabire–Ujung Pandang, harga tiket yang sebelumnya berada di kisaran Rp2,4 juta kini melonjak menjadi sekitar Rp3,2 juta. Sementara itu, rute Nabire–Jayapura mengalami kenaikan, dari sekitar Rp1,2 juta menjadi Rp1,6 juta.

Kenaikan ini tak lepas dari melonjaknya harga avtur yang mengikuti tren global. Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) menyebutkan bahwa lonjakan harga bahan bakar tidak dapat dihindari karena dampak krisis geopolitik yang meluas.

Data menunjukkan, harga avtur domestik naik hingga 70 persen, sedangkan untuk internasional melonjak 80,32 persen, dari 0,742 dolar AS per liter menjadi 1,338 dolar AS per liter. Jika dibandingkan dengan tahun 2019, kenaikan harga avtur bahkan mencapai 295 persen dari posisi Rp7.970 per liter.

Melihat kondisi tersebut, INACA mendesak pemerintah untuk segera menyesuaikan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat domestik serta menaikkan fuel surcharge. Sebelumnya, asosiasi mengusulkan kenaikan sebesar 15 persen, namun lonjakan harga terbaru dinilai membuat usulan itu perlu dikaji ulang.

Di sisi lain, maskapai nasional seperti Garuda Indonesia memilih fokus pada langkah efisiensi untuk menekan dampak kenaikan biaya operasional. Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, menyatakan bahwa perusahaan melakukan optimalisasi penggunaan bahan bakar serta pengendalian biaya guna menjaga kinerja keuangan.

Ia menegaskan bahwa bahan bakar merupakan komponen biaya terbesar dalam industri penerbangan, sehingga efisiensi menjadi kunci utama. Selain itu, Garuda juga terus memperkuat koordinasi internal dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor aviasi nasional.

Meski tekanan biaya semakin berat, maskapai memastikan operasional penerbangan tetap berjalan demi menjaga konektivitas transportasi udara, khususnya di wilayah-wilayah terpencil seperti Nabire. (ppn/ist)