Ikatan Puncak Eruwok Bangun Dusun Bitilame dan Dusun Nipuralem Swadaya Mandiri
NABIRE - Ketua Ikatan Eruwok Parinus Waker saat berkunjung ke Kantor Redaksi Papuapos Nabire, Kamis (13/6) mengatakan, Ikatan Puncak
Bagikan
NABIRE - Ketua Ikatan Eruwok Parinus Waker saat berkunjung ke Kantor Redaksi Papuapos Nabire,
Kamis (13/6) mengatakan, Ikatan Puncak
Eruwok telah membangun Dusun Bitilame dan Dusun Nipuralem secara swadaya
mandiri. Yang mana, dahulu Pemerintah Kabupaten Dati II Paniai Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Kecamatan Mulia diberikan Surat Tugas
Nomor:069/1118.56/C/1985 sebagai guru sukarela pada SD YPPGI Nggifrom Kecamatan
Ilaga. Dimana, Pemerintah Kabupaten Dati II Paniai Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Kantor Kecamatan Mulia diberikan surat tugas kepada tujuh orang
sebagai guru-guru sukarela pada SD-SD di Ilaga Kecamatan Ilaga pada waktu itu. Lanjutnya, pada tanggal 25 Juli 1985 melalui rapat yang digelar di Kantor Kecamatan Ilaga pada
saat itu, bersama dengan Camat Ilaga yang dijabat Almarhum Elieser Renmaur, BA
pada saat pertemuan disampaikan bahwa sesuai dengan surat tugas ketujuh orang
mengajar 7 SD di Kecamatan Ilaga tanpa pembayaran honor, lantas enam guru
sukarela melarikan diri ke Timika dan melamar sebagai Karyawan PT.
Freeport di Tembagapura. Tetapi, salah
satu guru dan selaku anak Ilaga, dirinya (Parinus Waker) rela mengajar tanpa pembayaran honor serta bertahan
mengajar pada SD YPPGI Nggifrom Kecamatan Ilaga, sehingga anak-anak yang pernah
dididiknya sudah banyak yang bekerja di
sejumlah kabupaten di wilayah pegunungan tengah. Pembangunan yang dilakukan oleh Ikatkan Puncak Eruwok, pertama yaitu Distrik Gome Kampung Wako
Dusun Bisilame Kabupaten Puncak, dimana bersama masyarakat melakukan kegiatan
pengukuran batas lokasi tanah Pemerintah Kabupaten Puncak dengan batas tanah
Kampung Wako tarik meter dari bangunan persekolahan SD, SMP, SMA Jalan Raya
Ilaga – Gome sepanjang jalan sejauh 1.450 meter itu pengukuran dari utara ke
selatan. Kemudian tarik meter dari timur batas kali Nambeburu ke barat sampai batas kali Bogombime dengan jarak 2,250 Meter didalam lokasi tersebut akan
dibangun5 (lima) jalan poros dan 4 (empat)
gang/jalur . Menurutnya, masyarakat Dusun Bisilame Kampung Wako Distrik Gome Kabupaten Puncak pernah memohon
Bantuan Pemerintah Provinsi Papua dan memohon pemerintah Kabupaten Puncak untuk
mendorong pembongkaran menata tata ruang Kampung dan meminta bantuan Perumahan
Pemukiman sebagai ganti rugi atas pembakaran rumah-rumah warga Kampung Wako yang 100% telah terbakar, akibat
perang suku konflik Pilkada. “Kampung Wako merupakan tempat terjadinya perang
suku akibat konflik Pilkada pada Tahun 2011, namun sampai
saat ini belum ada perhatian baik dari
Pemerintah maupun pihak Swasta manapun maka masyarakat Kampung Wako, sementara
ini semua warga Wako masih berada di tempat pengungsian yaitu di Kampung
Jenggernok, Kampung Agiome, Kampung Kuleme, Kampung Kago dan selebihnya ada
yang mengungsi ke Timika dan Nabire dan sampai saat ini mereka juga belum bisa
kembali ke Kampung Wako karena semua harta dan rumah telah musnah
terbakar,”ungkapnya. “Warga Dusun Bisilame Kampung Wako datang mengajukan permohonan bantuan pembongkaran jalan
tata ruas Kampung dan juga memohon adanya
bantuan perumahan Pemukiman sebagai ganti rugi sebanyak 200 Kepala
Keluarga (KK) yang saat ini masih berada
di tempat pengungsian “tambahnya. Kata Dirinya, Warga Dusun Jumkaninenggegim Kampung Nipuralome Distrik Ilaga melakukan kegiatan pengukuran untuk
lokasi perumahan atau pemukiman warga masyarakat sebagai ganti rugi
penerbangan, pengukuran lokasi perumahan perumahan pejabat dibagian barat mulai
dari jalan poros Bandara ke Ibukota Kabupaten
ke selatan 600 meter, kemudian dari perumahan Rumah Jabatan Bupati
sampai ke Bandara jalan bagian atas
2.900 meter, dapat di bangun 2 jalan poros dan 4 Gang atau Jalur. Ketua Ikatan
Puncak Eruwok Parinus Waker memohon
kepada Pemerintah Kabupaten Puncak mendorong pembongkaran lokasi guna
menata tata ruang Kampung danPerumahan
Pemukiman bagi warga masyarakat sebagai ganti rugi penebangan hutan bagi
200 Kepala Keluarga Kampung Nipuralome
Distrik Ilaga Kabupaten Puncak. Terkait dengan pengusulan Nama Kabupaten Puncak Jaya, kata Perinus Waker saat itu Kabupaten
Nabire merencakan dua kabupaten
pemekaran yaitu terdiri dari Kabupaten Paniai dan Kabupaten Puncak Jaya, maka
beberapa tokoh mengadakan rapat untuk beri nama Kabupaten yang dimaksud Yaitu
Bapak Pendeta Ruben Tabuni, Bapak Drs. Daniel Baharudin Wakerkwa, Bapak Ir.
Ismael Wakerkwa, Bapak Krispinus Wakerkwa, S.Sos, Bapak Frans Tabuni, dan Dirinya dalam rapat tersebut mengusulkan
nama Kabupaten Puncak Jaya, sebelum pemekaran Kabupaten Puncak Jaya, nama Puncak Jaya ini merupakan nama Kelompok Tani
berdasarkan itu membuka lahan pertanian untuk penanaman pohon kakao/coklat 50
hektar di Nabarua Kampung Kalisusu Kabupaten Nabire , sebenarnya kedudukan
Kabupaten Puncak Jaya di Ilaga, namun beberapa tokoh masyarakat mengusulkan bahwa
Ilaga di jadikan pusat pendidikan sedangkan Pusat Pemerintahan Kabupaten di
pindahkan ke Mulia dan saat itu jugalah
ibukota kabupaten Puncak dipindahkan ke Mulia. “Kabupaten Puncak Jaya merencanakan pemekaran Kabupaten Puncak dan dalam prosesnya pemerintah
Kabupaten Puncak Jaya meminta masukan
mengenai nama yang harus di usulkan untuk Pemekaran Kabupaten yang akan
beribukota di Ilaga tersebut maka dalam 4 kali pertemuan berturut-turut yang
melibatkan banyak tokoh Pemuda,
Intelektual dan Mahasiswa namun tidak berhasil menyepakati nama yang harus
diusulkan karena ada 3 nama di usulkan pada saat itu yakni ,Kabupaten
Ndugu-ndugu, Kabupaten Namengkawi dan Kabupaten Chartenz. Dan masing-masing
mempertahankannya hingga tidak berhasil mempertemukan ketiganya . Lanjutnya, akhirnya pada suatu hari, tepatnya di
hari minggu seusai Ibadah tepatnya didepan gedung gereja GKII Bethesda Abepura
beberapa Tokoh Intelektual dan Mahasiswa
Ikatan Puncak Eruwok yaitu, Naftali Wakerkwa, S.Sos, Melianus Wakerkwa,
SIP dan Jhon Kogoya, S.Sos bertemu dengan salah satu tokoh Intelektual dan juga
Pejabat Pemda Puncak Jaya yaitu, Bapak
Ismael Wakerkwa, ST yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas PU
Kabupaten Puncak Jaya dan Bapak Zakheus Wakerkwa, S.Sos yang terlibat langsung dalam rapat-rapat untuk sepakati nama
Kabupaten tersebut . dan mengatakan bahwa sudah 4 kali pertemuan dan belum ada
hasil. Lalu ketiga Intelektual dan Mahasiswa diatas mengajukan satu nama yang
sebelumnya memang sudah menjadi konsep dan didiskusikan di kalangan mereka
sendiri yaitu, ‘KABUPATEN PUNCAK PAPUA’
dengan alasan bahwa secara geografis Kabupaten Puncak Papua berada
tertinggi di atas semua kabupaten di Papua bahkan seluruh Indonesia merupakan
satu-satunya Kabupaten secara geografis
tinggi 4.883 meter diatas
permukaan laut. Karena Tim Pemekaran Kabupaten terus mendesak, untuk meminta nama Kabupaten tersebut maka
keesokan harinya digelar pertemuan yang ke-5 kalinya dan usulan dari ke tiga
Intelektual dan dan mahasiswa Ikatan Puncak Eruwok di atas di ajukan dan
seketika itu juga 3 kelompok yang tadinya sulit untuk saling menerima usulan
namun secara aklamasi dengan suara bulat menyepakati bahwa menerima nama
Kabupaten Puncak Papua, namun dalam perjalanan selanjutnya Gubernur Papua saat
itu Bapak JB SALOSA memberikan rekomendasi dengan nama ‘Kabupaten Puncak’ dan
hingga saat ini . nama inilah yang di tetapkan dalam Undang-Undang Nomor
8 Tahun 2008 Tentang Pemekaran Kabupaten Puncak dan 4 Kabupaten lainnya
di Pegunungan Tengah Papua. Menurut Ketua Ikatan Puncak Eruwok Parinus Waker, bahwa Ikatan Puncak Eruwok telah melihat
bahwa Pulau Papua bagian gunung Propinsi Papua dari Jayapura sampai Merauke
merupakan terletak dibagian perut dan punggung belakang, kemudian Propinsi
Papua Barat dari Manokwari sampai ke Kabupaten Sorong terletak bagian kepala
burung dan Kabupaten Nabire dan Kabupaten Paniai merupakan terletak di leher burung pulau Papua. Kemudian Jantung dari Pulau
Papua terletak Kabupaten Puncak Papua karena
2 (dua) hal yaitu, Dua sungai besar yang ada di Papua bersumber mata
air dari Kabupaten Puncak, yaitu sungai Mambramo yang mengalir ke arah Utara
dan sungai Digul yang mengalir ke arah
Selatan. Dan Pegunungan Papua yang
membujur dari Timur ke Barat dan Puncak tertingginya terletak
di Puncak Chartenz dan itu berada
di dalam wilayah Kabupaten Puncak. Parinus Waker,Amd.,S.Pt selaku Ketua Ikatan
Puncak Eruwok juga mengatakan pada tahun 2008 pada saat acara peresmian Kantor
Perwakilan, Penjabat Bupati Puncak pada saat itu, sempat menjanjikan bantuan
Natal berupa beras kepada sejumlah gereja di 2 Distrik. tetapi hingga akhir
masa jabatan Penjabat Bupati tersebut tak kunjung dating dan membuat masyarakat
menjadi kecewa. “Saya sebagai salah satu pegawai atau staf di distrik malu, karena janji seorang kepala atau
orang nomor satu pada waktu itu tidak di
tetapi, akhirnya saya berinisiatif untuk membagikan jatah beras saya, yang pada
saat itu kebetulan saya belum ambil jatah beras saya sebanyak 10 sak, dan
akhirnya saya bagikan kepada delapan geraja, yaitu gereja Kago 1, Gereja
Tagaloa, Gereja Olen, Gereja Nipuralome, Gereja Eronggobak, Gereja Bitilame,
Gereja Tegelobak, dan Gereja Mundidok 1, dan 2 sak lainnya saya bagi untuk
Kepala Suku Ilaga Kabupaten Puncak. Dan juga pada saat peresmian itu saya juga
sempat membelanjakan beberapa kebutuhan pada acara tersebut, seperti rokok,
gula, kopi dan lain-lain,”pungkasnya. (cad)
Bagikan artikel ini



