TIMIKA – Ketika setiap detik dalam situasi darurat dapat menentukan hidup dan mati, kemampuan menyelamatkan manusia tidak cukup hanya mengandalkan keberanian. Kecepatan harus berjalan bersama ketepatan, disiplin, kerja sama dan keselamatan. Pesan itulah yang mengemuka dalam Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) ke-8 Tahun 2026 di Mimika.

Ajang kompetisi tingkat nasional yang mempertemukan tim tanggap darurat sektor pertambangan dan energi dari berbagai daerah di Indonesia itu resmi dibuka Gubernur Papua Tengah Meki F. Nawipa di Mimika Sports Centre (MSC), Kabupaten Mimika, Sabtu (24/10/2026).

Bagi Gubernur Meki Nawipa, IFRC bukan sekadar arena untuk mencari siapa yang tercepat dan terbaik. Lebih dari itu, kompetisi tersebut menjadi ruang untuk mengasah keterampilan, memperkuat profesionalisme, membangun kesiapsiagaan serta menanamkan budaya keselamatan kerja.

“IFRC bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi merupakan sarana untuk meningkatkan keterampilan, profesionalisme, kesiapsiagaan dan kerja sama tim dalam menghadapi berbagai situasi darurat,” ujar Nawipa.

Menurutnya, keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas, terutama pada sektor industri dan pertambangan yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Karena itu, dibutuhkan sumber daya manusia yang terlatih, disiplin serta mampu mengambil tindakan secara cepat dan tepat ketika menghadapi keadaan darurat.

Sebanyak 17 perusahaan dari berbagai wilayah Indonesia ambil bagian dalam IFRC ke-8. Kehadiran perusahaan dan tim penyelamat dari berbagai daerah diharapkan menjadi ruang untuk saling belajar, bertukar pengalaman sekaligus memperkuat jaringan kerja sama dalam meningkatkan standar keselamatan dan kemampuan penyelamatan.

Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada PT Freeport Indonesia, PERTAPINDO, Kementerian ESDM dan seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan IFRC 2026.

Nawipa memberikan perhatian khusus kepada PTFI. Ia mengaku pernah menjadi salah satu penerima beasiswa yang diberikan perusahaan tersebut.

Keselamatan Bukan Sekadar Target

Pesan mengenai keselamatan juga ditegaskan Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong.

Menurut Kemong, kompetensi personel penyelamat menjadi sangat penting karena kondisi darurat menuntut kecepatan, ketepatan, kedisiplinan, kerja sama tim serta kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

“Dalam situasi darurat, setiap detik sangat berarti,” tegasnya.

Ia mengatakan kemampuan teknis, ketahanan fisik dan mental, penguasaan prosedur keselamatan serta koordinasi antarpersonel menjadi faktor yang menentukan keberhasilan sebuah tindakan penyelamatan.

Karena itu, IFRC diharapkan tidak berhenti pada pencapaian prestasi. Kompetisi harus menjadi ruang bagi para peserta untuk menguji kemampuan, berbagi pengalaman, memperluas wawasan dan mempelajari metode penanganan keadaan darurat yang lebih efektif dan profesional.

“Jadikan kegiatan ini sebagai sarana untuk memperkuat semangat sportivitas, solidaritas, disiplin dan kepedulian terhadap keselamatan jiwa manusia,” kata Kemong.

Ia menilai tugas pemadam kebakaran dan penyelamatan bukan semata-mata tentang kemampuan menghadapi tantangan, tetapi juga menyangkut pengabdian, keberanian dan tanggung jawab untuk melindungi kehidupan manusia.

Sebagai daerah dengan aktivitas pertambangan, industri dan pembangunan yang cukup tinggi, Mimika, kata Kemong, memandang keselamatan dan kesiapsiagaan sebagai kebutuhan yang harus terus diperkuat.

Peningkatan kapasitas personel perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan, kompetisi, pertukaran pengetahuan dan kerja sama lintas sektor.

Pemkab Mimika pun memberikan apresiasi terhadap PT Freeport Indonesia, panitia penyelenggara dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan IFRC 2026.

Kemong berharap kegiatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta dan institusi masing-masing, tetapi juga ikut memperkuat sistem keselamatan serta penanggulangan keadaan darurat secara lebih luas.

Dari Papua untuk Indonesia

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas, yang menyampaikan sambutan secara daring, turut menyinggung pentingnya keselamatan setelah mengenang tujuh karyawan PTFI yang meninggal dunia akibat insiden tambang pada tahun sebelumnya.

Ia menegaskan keselamatan merupakan nilai fundamental yang harus menjadi prioritas dalam setiap aktivitas pertambangan.

“Melalui IFRC ini, mari kita memperkuat jejaring, mengasah kemampuan dan membangun kesiapsiagaan bersama. Dari tanah Papua untuk keselamatan pertambangan Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia IFRC 2026 Periyadi menegaskan kompetisi tersebut bukan sekadar adu kecepatan maupun perolehan skor.

IFRC, katanya, merupakan wadah untuk mempertemukan para profesional tanggap darurat, berbagi pengalaman, memperkuat jejaring serta membangun budaya keselamatan di sektor industri pertambangan.

“Keselamatan bukan hanya prioritas, melainkan nilai dasar yang harus menjadi fondasi setiap keputusan dan tindakan,” katanya.

Pembukaan IFRC 2026 turut dihadiri Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Gelei, Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol Jermias Rontini, para bupati se-Papua Tengah, Kepala Teknik Tambang PTFI Carl Tauran, Direktur sekaligus EVP Sustainable Development PTFI Claus Wamafma serta jajaran pimpinan perusahaan mineral di Indonesia.

Penyelenggaraan IFRC ke-8 di Mimika sekaligus menjadi momentum memperkenalkan Papua Tengah sebagai daerah yang terbuka bagi kegiatan berskala nasional.

Di luar arena kompetisi, para peserta juga mendapat kesempatan mengenal potensi daerah, kekayaan budaya dan keramahan masyarakat Mimika.

Pada akhirnya, IFRC 2026 membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar kemenangan. Di tengah risiko tinggi industri pertambangan, kemampuan menyelamatkan nyawa harus terus diasah, diuji dan diwariskan sebagai budaya.

Sebab dalam keadaan darurat, yang dipertaruhkan bukan sekadar waktu dan skor, melainkan keselamatan manusia. (Ist)