Gubernur Meki Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport
Dari pusat operasi inilah Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa bersama jajaran kepala daerah se-Papua Tengah melihat langsung wajah industri pertambangan modern PT Freeport Indonesia (PTFI).

TEMBAGAPURA – Di balik jaringan terowongan raksasa yang menembus kedalaman bumi Mimika, teknologi dan sumber daya manusia berpadu menggerakkan salah satu sistem pertambangan bawah tanah paling kompleks di dunia. Dari pusat operasi inilah Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa bersama jajaran kepala daerah se-Papua Tengah melihat langsung wajah industri pertambangan modern PT Freeport Indonesia (PTFI).
Kunjungan kerja tersebut berlangsung di kawasan pertambangan bawah tanah PTFI, Tembagapura, Kabupaten Mimika, Minggu (25/10/2026). Gubernur Meki Nawipa didampingi Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Gelei, Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong serta para bupati se-Provinsi Papua Tengah.
Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian agenda kerja rombongan Pemerintah Provinsi Papua Tengah di Timika yang dimulai sejak Sabtu (24/10/2026).
Direktur sekaligus EVP PT Freeport Indonesia Claus Wamafma turut mendampingi Gubernur Meki Nawipa dan rombongan selama berada di kawasan operasional perusahaan.
Setibanya di Tembagapura, rombongan terlebih dahulu meninjau fasilitas pengolahan konsentrat. Setelah itu, kunjungan dilanjutkan menuju area operasi tambang bawah tanah.
Di lokasi tersebut, rombongan mendapatkan penjelasan mengenai sistem kerja pertambangan, pergerakan kendaraan operasional hingga proses pengendalian aktivitas tambang melalui ruang kontrol.
Sebelum melihat langsung area operasional, Gubernur dan para kepala daerah menerima paparan mengenai gambaran umum kegiatan pertambangan dari Senior Vice President (SVP) Underground Mine PT Freeport Indonesia, Hengky Rumbiak.
Dalam paparannya, Hengky menjelaskan perjalanan transformasi operasi pertambangan PTFI dari tambang terbuka (open pit) Grasberg menuju sistem pertambangan bawah tanah.
Tambang terbuka Grasberg secara resmi menyelesaikan operasinya pada 2019. Selanjutnya, kegiatan pertambangan diarahkan sepenuhnya ke bawah tanah untuk mengakses cadangan bijih tembaga, emas dan perak yang masih tersimpan di kedalaman bumi Papua.
Salah satu metode utama yang digunakan adalah Block Caving atau metode ambrukan blok. Melalui metode ini, peledakan dilakukan secara terkontrol di bawah blok bijih dalam skala besar sehingga material dapat runtuh akibat beratnya sendiri, kemudian diarahkan menuju titik-titik penarikan atau drawpoints.
Rombongan juga mendapat gambaran mengenai besarnya jaringan terowongan yang membentuk sistem pertambangan bawah tanah PTFI.
Di antaranya Grasberg Block Cave (GBC) yang berada pada kedalaman sekitar 1.200 meter, Deep Mill Level Zone (DMLZ) sekitar 1.500 meter serta kawasan Big Gossan.
Tidak hanya melihat aktivitas pertambangan secara konvensional, rombongan juga diperkenalkan dengan penerapan teknologi modern dalam pengoperasian tambang.
Salah satunya teknologi kendali jarak jauh atau teleoperation, yang memungkinkan alat-alat berat dikendalikan dari ruang kontrol di permukaan. Sistem tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan efisiensi sekaligus mendukung keselamatan kerja di lingkungan pertambangan bawah tanah.
Alur pergerakan bijih juga menjadi bagian dari penjelasan yang diterima rombongan. Material hasil tambang diangkut melalui sistem crusher dan jaringan conveyor berkapasitas besar menuju fasilitas pengolahan atau mill di permukaan.
Manager Operation GBJ Production, Hendrik Aiwoisendin Werimon, turut memberikan penjelasan kepada Gubernur Meki Nawipa dan rombongan selama kunjungan berlangsung.
Sementara itu, Manager Operation Mill Divisi Concentrating Ferdinand Ruff menjelaskan proses pengolahan material kepada Gubernur dan para kepala daerah.
Bagi Pemerintah Provinsi Papua Tengah, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana kekayaan sumber daya alam Papua dikelola dengan dukungan teknologi pertambangan modern, sistem operasi berskala besar serta sumber daya manusia yang memiliki keahlian khusus.
Kunjungan itu sekaligus memperlihatkan kompleksitas aktivitas pertambangan yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama perekonomian di wilayah Papua Tengah, khususnya Kabupaten Mimika. (Ist)
Bagikan artikel ini



