NABIRE – Mewakili pihak keluarga, Hengki Makai menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan kepulangan jenasah Alm. Akudian Makai.

“Kepada pemerintah, masyarakat, DPRD Kabupaten Dogiyai dan juga Nabire, saya atas nama keluarga mengucapkan banyak terima kasih karena dengan adanya bantuan tersebut, keluarga merasa terbantu dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak,” kata Hengki Makai selaku kakak sepupu dari almarhum Akudian Makai, saat berkunjung ke Redaksi Papuapos Nabire, Rabu (21/1/2026).

Ia menjelaskan, Alm. Akudian Makai ketika sedang kuliah di Semarang, terkena sakit, lalu dari pihak keluarga mengumpulkan uang sebesar Rp1.000.000 sampai 2 juta rupiah atau kata lain semampunya. 

Hengki Makai juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Dogiyai dan juga Pemerintah Nabire dalam hal ini Bupati Nabire Mesak Magai, dimana selama almarhum ketika sakit, pernah diberikan bantuan sebesar Rp40.000.000. 

“Almarhum Akulian meninggal di Rumah Sakit Semarang dan saat mau dipulangkan ke Nabire, Bupati Nabire, Mesak Magai membantu keluarga sebesar 40 juta rupiah dan saat itu juga Bupati Dogiyai, Yudas Tebai juga pernah membantu keluarga sebesar 50 juta rupiah,” ungkapnya.  

Selain Bupati Nabire dan Dogiyai, ada sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kabupaten Dogiyai atas nama Bernadus Pokuai, sebanyak Rp9.000.000, lalu anggota DPRK Nabire Markus Makai sebesar Rp6.000.000, kemudian anggota DPRK Nabire Nandito Mapian Magai sejumlah Rp5.000.000 dan anggota DPRK Dogiyai Sadrak Kegou, membantu sebesar Rp2.000.000. 

Selain itu, juga Kepala Dinas PUPR Kabupaten Nabire, Martinus Makai, membantu sebesar Rp5.000.000, saat almarhum dirawat di rumah sakit, lalu saat meninggal untuk memulangkan Alm. Akudian Makai, Kadis PUPR Nabire juga memberikan bantuan sebesar Rp10.000.000 dan beberapa kepala kampung dari sekabupaten Dogiyai pernah membantu pihak keluarga paling banyak Rp7.500.000 perorang, dan paling sedikit Rp1.000.000, kemudian dari unsur Kepala Suku Simapitowa Rayon Wanggar pernah membantu keluarga sewaktu sakit sebesar Rp2.000.000 dan Rp3.000.000, saat almarhum dipulangkan ke Nabire.

"Kami juga berterima kasih kepada warga masyarakat Dogiyai yang telah peduli terhadap almarhum Akudian Makai, paling banyak sebesar satu juta rupiah dan paling sedikit 500 ribu, masyarakat juga pernah membantu keluarga serta Kepala Kampung Kimupugi yang jauh dari Distrik Piyaiye juga pernah membantu keluarga sebesar satu juta rupiah," ucap Hengki Makai.

Hengki mengatakan, semua bantuan tersebut digunakan dalam beberapa hal, yang pertama untuk menyembuhkan Almarhum Akudian Makai sewaktu berada di kota studinya, namun gagal. Pada akhirnya pihak keluarga memulangkan Almarhum Akudian Makai dan dana sebagian yang didapat untuk membantu mahasiswa di Semarang untuk melakukan acara duka, dana juga sebagian dipakai untuk pembuatan rumah kuburan almarhum di Nabire dan yang lain untuk melakukan acara tiga malam dan tujuh malamnya.

"Untuk almarhum Akudian saat sakit, lalu tidak sampai satu bulan dan saat itu sedang sehat-sehatnya, lalu keluarga berkomunikasi dengan almarhum sangat lancer, tetapi setelah sakit langsung, kondisinya parah dan sangat drop dan itu dalam bulan Desember lalu,” tuturnya. 

Perlu diketahui, almarhum meninggal pada 13 Januari 2026 dan dipulangkan dari Semarang pada 15 Januari 2026 lalu tiba di Nabire dan dikuburkan pada 16 Januari 2026 di Pekuburan Umum Distrik Wanggar, Kampung Wanggar Sari.

Hengki menjelaskan, selama almarhum sakit hingga tiba di Nabire pihak keluarga tidak mampu membayarnya, semoga Tuhan yang akan membalas semua kebaikan dari pemerintah, DPRK, kepala kampung, kepala suku maupun warga masyarakat.

"Kami tidak tahu apa yang terjadi. Namun, karena ada pemerintah Almarhum Akudian Makai bisa sampai di Papua dan kami kubur sesuai dengan keinginan pihak keluarga. Semua rencana dan juga kepemimpinan Bupati Dogiyai dan Nabire, kirannya Tuhan tetap perhatikan, serta Tuhan akan melindungi kepada yang pernah membantu kami pihak keluarga," tutupnya.(edi)