NABIRE – Pada tanggal 10 Desember diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia. Untuk itu, front rakyat bersama mahasiswa dan pelajar melakukan aksi di lima titik berbeda, seperti di Universitas Satya Wiyata Mandala (Uswim), Pasar Karang, Siriwini, SP 1 dan Jepara 2. 

Aksi yang awalnya direncanakan ke Kantor Gubernur Papua Tengah itu, berubah haluan ke Kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Provinsi Papua Tengah.

Orator dalam aksi yang dilakukan di Pasar Karang, Jhon Yeimo menyampaikan dengan memperingati hari HAM 10 Desember, di mana orang Papua diserahkan ke dalam tangan Indonesia jadi malapetaka bagi orang Papua dimulai hingga saat ini tahun 2025 dan telah terjadi pembunuhan serta penembakan.

"Tepat 10 Desember kami memperingati hari HAM sedunia, dengan itu kepada seluruh rakyat bangsa Papua yang ada, yang tersisa. Mari kita bersuara untuk mensukseskan tanggal 10 ini," ucap Jhon ketika ditemui di sela-sela massa aksi yang ada di Pasar Karang, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, Rabu (10/12/2025).

Ia berharap di 10 Desember ini untuk kawan-kawan militerisme segala macam, hentikan penembakan, pembunuhan dan pemerkosaan di atas tanah bangsa Papua ini.

Ia menjelaskan, HAM harus ada untuk rakyat bangsa Papua dan kurang lebih 300 massa aksi yang berkumpul menyuarakan HAM hari ini. Di sisi lain, salah satu peserta aksi menyampaikan, polisi-polisi di depan ini adalah robot-robot, sehingga yang banyak pelanggaran HAM yang terjadi di atas tanah Papua.

Sementara itu, ketika ditemui di Pasar Karang bersama massa aksi, Kapolres Nabire, AKBP Samuel D. Tatiratu, S.I.K., mengatakan aksi penyampaian aspirasi hari ini pihak polres tidak melarangnya. “Silakan saja dan ini dijamin oleh undang-undang, dengan menyuarakan isu-isu yang ada di Kabupaten Nabire maupun di Provinsi Papua Tengah,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam hal ini Kepolisian Resor Nabire beserta Dalmas Polda Papua Tengah dan personil Angkatan Laut (AL) serta Brimob, terbagi dlam pengamanan di 5 titik pelayanan pada hari ini (Rabu kemarin).

"Untuk hari ini yang disiagakan ialah perlalulintasan, di mana pagi hari di Pasar Karang banyak mama-mama berjualan, banyak kendaraan berlalu lalang serta juga ada beberapa kampus seperti STAK melakukan ujian dan juga Uswim," kata Kapolres Nabire, ketika menemui massa aksi di Pasar Karang.

Kapolres Nabire menambahkan, jika semua adik-adik longmarch dari 5 titik yang berbeda, jumlah massa sekitar 500 sampai 1.000 orang. Ia mengharapkan ada tanggung jawab dari rekan-rekan Koordinator Lapangan (Korlap) dengan menandatangani surat pernyataan untuk menjaga barisan Korlap di setiap titik. 

“Namun adik-adik kita ini tidak mau menandatangani pernyataan itu. Yang kita khawatirkan adanya penyusupan atau ada gangguan dari pihak luar yang nantinya terjadi chaos (kekacauan), menggangu aktivitas warga di jalan raya dan juga hal-hal lain," ujarnya.

AKBP Samuel menyampaikan apresiasi kepada adik-adik (massa aksi) masih tertib dalam menyampaikan aspirasi. “Mari kita tetap jaga keamanan bersama. Pada prinsipnya Polres Nabire, Polda Papua Tengah dan jajaran siap melaksanakan pelayanan pelaksanaan penyampaian aspirasi ini,” tandasnya.

Dari pantauan media ini di lapangan, massa aksi yang berkumpul di Pasar Karang ketika bertemu dengan anggota DPR provinsi, akhirnya menemukan titik temu dan melakukan dialog di Kantor DPR Papua Tengah, dengan melakukan longmarch dari Pasar Karang menuju Kantor DPR Provinsi Papua Tengah.(edi)