Gereja Katolik Berada Pada Dua Kebiasaan
NABIRE - Gereja Katolik umat Paroki Santo Yosep Nabar sementara ini berada pada dua kebiasaan, kebiasaan lama dan kebiasaan baru sehingga ke
Bagikan
NABIRE - Gereja Katolik umat Paroki Santo Yosep Nabar sementara ini berada pada dua kebiasaan, kebiasaan lama dan kebiasaan baru sehingga kebiasaan lama dan kebiasaan baru, orang berpegang pada kebiasaan lama itu masuk sudah pegang pada kanonik gereja yang bersifat statis. Hal ini diungkap Ketua Dewan III Paroki Santo Yosep Nabar Yulius Tatogo belum lama ini, usai kegiatan kemping rohani bagi OMK yang dilaksanakan selama dua di Yaro 1 Kamis hingga Sabtu (6-8/6/2019). Dikatakan Yulius, jadi mereka menilai bahwa kanonik gereja ini bisa diubah berpegang pada itu, kalau memang seperti begini gereja katolik tanah Papua itu harus tutup. Karena apa contohnya, kita belum nikah jelas saya punya anak semuanya tidak diperbolehkan permandian sampai generasi keberapa, jadi secara otomatis gereja katolik ditutup saja padahal kanonik itu ambil kebijakan oleh Pastor Paroki maupun uskup dengan melihat perkembangan dan kemajuan. Kita berpegang pada kanonik yang lama gereja katolik itu ditutup dan kita lihat apa yang diajak oleh Yesus kepada kita bahwa setiap orang bertanggung jawab di akhirat masing-masing dengan perbuatannya hingga kesalahan orang tua tidak mungkin dilemparkan kepada anaknya, anak punya nyawa itu kita kasih selamatkan sekali pun orang tuanya belum nikah karena keselamatan setiap orang itu berada pada setiap orang itu sendiri bukan berpegang pada orang tuanya. Makanya selama ini Pastor Gerry selamatkan sekian ratus orang. Kalau tidak demikian gereja katolik ditutup supaya bertanggung jawab dihadapan Tuhan itu masing-masing orang kemudian selama ini, kita lihat ada banyak hal yang terjadi mata kita tapi mata kita ini tutup banyak anak-anak jalanan, mabuk, curi, isap lem aibon, anak kelandangan dan lain sebagainya kita lihat tapi biarkan begitu saja dengan Pastor Gerry datang itu baru dia rangkul semua dalam satu wadah, yaitu rumah kedalam gereja. Selanjutnya, dengan kelompok mereka itu Santo Mickahel dari situ baru kita mengasah mereka, mendidik, mengarahkan mereka ke jalan yang baik, bahkan buka cafe hohani itu memang terbukti setiap hari minggu dipegang oleh macam-macam bagian sepertinya, misdinar, lagu-lagu, bacaan, doa umat dan lain sebagainya. Mereka jadi selama ini kita orang Papua dinilai oleh orang lain bukan manusia lagi, tapi Pastor Gerry menilai kita orang pribumi juga manusia akhirnya dia merangkul semua suku yang ada dibawah Paroki Santo Yosep Nabar.(modes)
Bagikan artikel ini



