Gebyar 13 Tahun Pengakuan UNESCO: Festival Seni dan Pameran Noken Guncang Nabire

NABIRE - Gemuruh musik tradisional dan warna-warni kreasi kultural membanjiri area eks Bandara lama Nabire pada Kamis (4/12/2025). Dalam rangka peringatan Hari Noken Sedunia yang ke-13, Dewan Kesenian Provinsi Papua Tengah (DKPT) sukses menggelar sebuah perayaan akbar bertajuk Festival Seni dan Pameran Noken, menandai lebih dari satu dekade pengakuan dunia terhadap tas rajut ikonik Papua ini.
Kemeriahan acara ini tidak hanya sekadar formalitas, melainkan etalase hidup kekayaan budaya Papua Tengah. Panggung utama dihiasi oleh penampilan memukau dari berbagai vocal group, tarian Odiyai yang energik serta kemeriahan Lomba Fashion Show yang menampilkan Noken dalam gaya kontemporer. Sorotan utama jatuh pada kehadiran Mama-mama Pengrajin Noken dari beragam komunitas budaya yang memamerkan mahakarya tangan mereka.
Peringatan ini terasa semakin sakral dengan momen 13 tahun sejak Noken Papua resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Pengakuan internasional pada 4 Desember 2012 ini bukan hanya penghargaan, tetapi sebuah penegasan global bahwa Noken adalah simbol mendalam kedamaian, persaudaraan dan kebijaksanaan yang dipegang teguh oleh masyarakat Papua.
Mewakili Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Papua Tengah, Norbertus Mote, menegaskan pentingnya perayaan ini.
Ia menyatakan bahwa Hari Noken Sedunia adalah sebuah persembahan, sebuah ‘penghargaan terhadap nilai-nilai budaya Papua’ yang harus dijaga keberlangsungannya.
“Karena itu, kita wajib bersama melestarikan, meneruskan dan menghidupkan tradisi leluhur ini bagi generasi yang akan datang,” ungkap Mote, menekankan tanggung jawab kolektif dalam menjaga warisan budaya ini agar tidak lekang dimakan zaman.

Melalui festival ini, Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga memiliki visi strategis, yakni memastikan kaum muda Nabire tidak hanya mengenal Noken sebagai identitas yang diwarisi, tetapi juga terampil untuk membuatnya dengan tangan mereka sendiri. Hal ini dipandang sebagai investasi masa depan bagi daerah.
Norbertus Mote menambahkan, keterampilan merajut Noken membawa manfaat ganda. “Keterampilan merajut Noken bukan hanya soal seni, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif, wira usaha dan pengembangan ekonomi lokal,” jelasnya, mengaitkan lestarinya budaya dengan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Provinsi Papua Tengah, Novit Nawipa, menekankan peringatan ini adalah momen kritis untuk meningkatkan kesadaran global. Noken, bagi masyarakat Papua, adalah cerminan nilai artistik dan identitas, melampaui fungsinya sebagai tas praktis.
Novit Nawipa menutup sambutannya dengan seruan bernada peringatan. “Bangsa yang tidak ada budaya itu bangsa yang nantinya punah. Jadi mari kita sama-sama jaga dan lestarikan budaya leluhur kita,” pesan ini menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk menjadi garda terdepan pelestarian budaya kebanggaan ini.(amd)
Bagikan artikel ini



