NABIRE - Masalah sampah plastik yang kian menumpuk di pusat perkotaan menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Nabire. Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire, Matius Mesi, mengakui bahwa sejauh ini belum terlihat pengurangan yang signifikan terhadap volume sampah plastik di wilayahnya. 

Kondisi ini memicu DLH untuk segera menggulirkan langkah strategis guna menekan dampak lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.

Salah satu progres nyata yang tengah dijalankan adalah membangun kerja sama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam pengadaan fasilitas penunjang kebersihan. 

DLH merencanakan pembuatan gerobak-gerobak sampah khusus yang dirancang spesifik untuk menampung sampah plastik bekas minuman. Inisiatif ini diambil karena botol plastik merupakan salah satu penyumbang limbah terbesar yang sering kali dibuang sembarangan oleh masyarakat.

Program ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah penampungan, tetapi juga sebagai sarana edukasi visual bagi warga Nabire. Dengan adanya gerobak sampah plastik yang diletakkan di ruang publik, diharapkan masyarakat mulai terbiasa memilah sampah sejak dari tangan pertama. 

Edukasi ini dinilai penting agar perilaku membuang botol plastik ke sembarang tempat dapat diminimalisir melalui pembiasaan menempatkan sampah pada wadah yang telah disediakan.

Sebagai bentuk sinergi yang saling menguntungkan, DLH menawarkan skema timbal balik kepada pihak BUMD yang bersedia mendukung pengadaan sarana tersebut. 

BUMD yang berpartisipasi akan diberikan izin untuk memasang iklan atau identitas perusahaan pada gerobak-gerobak sampah plastik yang disebar. Hingga saat ini, progres tersebut telah berjalan positif dengan adanya kesanggupan dari beberapa BUMD dan dukungan dari pihak legislatif (DPRP) untuk merealisasikan pengadaan gerobak tersebut.

Matius Mesi menekankan, sampah plastik memiliki karakteristik yang merugikan karena sifatnya yang ‘bermigrasi’. Jika dibuang di satu titik, sampah plastik sangat mudah berpindah ke lokasi lain mengikuti arus air atau angin, sehingga mencemari area yang lebih luas. 

Selain itu, sifat plastik yang tidak ramah lingkungan dan sulit terurai secara alami menjadikan penanganannya sebagai prioritas utama bagi kedinasan terkait di Kota Nabire.

Lebih jauh dikatakan, sampah yang terkumpul di gerobak-gerobak tersebut nantinya tidak hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah plastik tersebut akan masuk ke sistem pengelolaan sampah terpadu untuk diproses lebih lanjut. 

Tujuannya adalah mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis kembali, baik melalui proses daur ulang maupun transformasi wujud menjadi barang yang lebih berharga dan bermanfaat bagi masyarakat.

Mengenai lokasi penempatan, DLH telah memetakan sejumlah titik strategis yang memiliki tingkat keramaian tinggi. Rencananya, gerobak sampah plastik ini akan disebar di area halte bus, alun-alun kota hingga kawasan pantai yang menjadi destinasi favorit pengunjung. Lokasi-lokasi ini dipilih karena merupakan pusat aktivitas masyarakat yang paling rentan menghasilkan tumpukan sampah plastik minuman.

“Ini merupakan salah satu cara mengedukasi masyarakat agar sadar tentang masalah sampah, terutama sampah plastik,” ujar Matius Mesi saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (15/04/2026). 

Melalui integrasi antara penyediaan fasilitas, kerja sama lintas sektor, dan edukasi publik, Pemerintah Kabupaten Nabire optimis kebersihan kota dapat terjaga dan ekosistem lingkungan tetap terlindungi dari ancaman limbah plastik.(sam)