PANIAI – Lagi, warga Kampung Duma, Distrik Dumadama, Kabupaten Paniai, menghadapi kenyataan pahit ketika hasil kebun mereka gagal panen. Akibatnya, puluhan orang di kampung itu dilaporkan sedang dalam kondisi kelaparan, beberapa lainnya menderita sakit. Data yang diterima dari sumber media ini pekan kemarin, dua orang di Kampung Duma meninggal lantaran terhanyut arus air kali ketika mencari bahan makanan buat keluarganya. “Dua orang, adik kakak, terbawa air dan sampai sekarang kami belum temukan tulang belulangnya,” kata Nikodemus Diwitau, tokoh pemuda Dumadama, ketika membeberkan bencana yang terjadi sejak dua pekan lalu.Ia bersama beberapa orang dari Duma ke Enarotali untuk menyampaikan laporan kejadian yang merenggut dua nyawa, juga gejala sakit dan kelaparan di sana. “Masyarakat sedang terkena musibah. Ada 60 keluarga. Tidak bisa gali ubi di kebun-kebun seperti biasanya. Ada tetapi ubinya berair dan sudah busuk dalam tanah. Mau dapat makanan dimana, tidak ada. Kami dari sana jalan kaki ke sini, tujuannya untuk lapor ke Bupati Paniai,” tuturnya kepada media ini di Enarotali.Kepala Distrik Dumadama, Damianus Yatipai, S.Sos yang dilantik dua bulan lalu, menurut Niko, sudah ketahui kondisi di sana. Hanya saja, informasi itu sepertinya belum sampai ke pejabat daerah, apalagi Bupati masih urusan dinas di luar daerah.“Mepa, kami datang lapor sama Bupati dan Sekda supaya segera tangani masalah sakit dan kelaparan di Duma,” sambung Nikodemus Diwitau.Harapannya, segera bentuk tim terpadu untuk turun ke lokasi bencana, tepatnya Kampung Duma, agar adakan tanggap darurat. “Obat-obatan dan makanan harus diturunkan karena kalau tidak nanti banyak korban seperti kejadian pada beberapa tahun silam,” ucap dia.Musibah kelaparan di daerah itu bukan kali ini saja. Penghujung tahun 2007, kondisi nyaris sama melanda warga Duma. Terlambat penangangan, 21 orang meninggal dunia. Tak hanya perempuan dan anak-anak, laki-laki juga jadi korban akibat menderita sakit dan kelaparan. Musibah mulai melanda sejak akhir September 2007. Sebelum itu di sana sempat terjadi perang antar marga Wamoni dan Hanau.Konon, hampir tiap tahun warga di sana alami bencana serius. Gagal panen dan buruknya kesehatan terjadi tiap tahun.Distrik Dumadama adalah distrik terjauh di Kabupaten Paniai. Letaknya dibawah kaki gunung Grasberg. Lebih dekat dengan Kabupaten Mimika, dibanding ke Madi atau Enarotali cukup jauh. Kampung Dogomo dan Duma, berbatasan langsung dengan kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia.Satu-satunya akses transportasi ke daerah itu hanya bisa lewat jalur udara. Ada satu lapangan terbang milik misionaris, dulu biasa melayani rute penerbangan seminggu sekali. Pemkab Paniai sempat gandeng Susi Air untuk layani warga Dumadama, termasuk Siriwo dan Bogobaida, tahun 2012. Layani beberapa bulan saja, terhenti hingga kini. Praktis, tak ada penerbangan ke distrik itu.Warga Dumadama, seperti halnya orang pegunungan umumnya, mengandalkan potensi alam. Misalnya kebun dan beternak, merupakan andalan mereka untuk menghidupinya.Tak semua, hanya beberapa orang saja secara berkala “turun” ke Enarotali. Belum ada jalan raya, hanya jalan setapak. Butuh dua hari di tengah jalan, itupun jika tanpa beban misalnya gendong anak atau barang bawaan. Macam-macam kepentingan, pulang ke kampung juga mesti jalan kaki. Setelah belanja sembako atapun barang kebutuhan lain, mereka pikul mendaki gunung dan lereng hingga lembah, memakan tiga hari di pertengahan jalan dan sampai di rumah mereka. (you)