Film Menceritakan Papua Masih Kurang
Jayapura,- Ketua Lembaga Sensor Film Indonesia, Dr. Mukhlis Paeni mengatakan bahwa dari sekian banyak judul film, judul film yang menceritrakan bangsa Papua masih sangat kurang. Namum, Papua beberapa judul film dari Papua hasilnya sangat baik dan menjadi film terbaik di Ind
Bagikan
Jayapura,- Ketua Lembaga Sensor Film Indonesia, Dr. Mukhlis Paeni mengatakan bahwa dari sekian banyak judul film, judul film yang menceritrakan bangsa Papua masih sangat kurang. Namum, Papua beberapa judul film dari Papua hasilnya sangat baik dan menjadi film terbaik di Indonesia.
Seperti film senandung diatas awan atau denias itu satu film yang terbaik menjadi rujukan bagi produser film di indonesia untuk membuat film seperti Denias, tetapi juga tidak semuanya seperti itu ada juga film Papua yang ikut-ikutan film-film horor yang lebih muncul dimana-mana,” ujarnya.Yang sangat menarik film Dari timur Matahari itu judul yang bagus, Melodi Kota Rusa itu film yang indah, Negeri di bawa awan itu film yang cantik, ambil bulan itu film yang sangat bagus, carikan aku kupu-kupu warna biru itu luar biasa filmnya, leher angsa bisa menjadi film yang bisa dikatakan referenshi atau rujukan untuk pembuatan film nasional itu sangat bagus dari Papua dan Senyum dari Wamena itu juga film yang sangat indah.“Nah, film-film seperti ini sangat diperlukan untuk memberikan peluang terhadap upaya kita untuk mengarah kesatu kegiatan yang sangat mulia dalam kehidupan berbangsa yaitu dalam pemahaman multikulturalisme itu,” pungkasnya.Sementara itu, Gubernur Papua, Lukas Enembe,SIP,MH dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten Dua Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Papua Drs.Elia I.Loupatty pada acara sosialisasi kebijakan lembaga sensor film di Hotel Horison, Jayapura, Kamis (12/6), mengaku kebeterbatasan budaya daerah menjadi sangat intim dengan manusia yang menjadi pelaku dan pendukungnya.“Dalam budaya daerah hampir semua tokoh/manusia menjadi pelaku dari dinamika masyarakat yang dikisahkan apa adanya,” jelasnya.Dijelaskannya, budaya daerah menjadi identitas mayarakat, identitas lokal yang secara emosional mengikat warganya menjadi sebuah kesatuan. Pengelolaan budaya lokal secara aktif dan dinamis meningkatkan harkat, citra dan harga diri yang mendatangkan kesejahteraan sosial bagi masyarakat.Sementara itu, kata Gubernur, lembaga sensor film merupakan lembaga yang melindungi masyarakat dari pengaruh negatif dan positif sebuah film, sekaligus menjaga kebudayaan daerah. Dengan kemajuan teknologi, bisa dipahami bahwa semakin mudahnya insan-insan film memproduksi.“Sehingga perkembangan teknologi tidak hanya membuat teknis dan kualitas pembuatan film yang semakin baik dan ongkos produksi dalam pembuatan film menjadi lebih ekonomis,” akunya.
Bagikan artikel ini



