Evaluasi Pengamatan Panen Padi, Jagung Melalui Metode KSA
NABIRE - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nabire menggelar rapat evaluasi hasil pendataan panen padi dan jagung melalui metode Kerangka Sampel Area (KSA). Melalui evaluasi ini pelaksanaan pengamatan luas panen padi dan jagung melalui metode KSA ini semakin baik dan akurat.

NABIRE - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nabire menggelar rapat evaluasi hasil pendataan panen padi dan jagung melalui metode Kerangka Sampel Area (KSA). Melalui evaluasi ini pelaksanaan pengamatan luas panen padi dan jagung melalui metode KSA ini semakin baik dan akurat.
Statisi Ahli Pertama BPS Nabire, Agustinus Hatta mengatakan yang dilibatkan dalam kegiatan evaluasi KSA ini, mitra-mitra dari BPS Kabupaten Nabire. Mereka sudah dilatih untuk melakukan kegiatan tersebut.
Kegiatan ini merupakan pengamatan ke titik lokasi sampel yang menggunakan Android. Adapun sampel-sampel tersebut sudah ditentukan oleh pusat, menggunakan citra satelit.
"Kita masuk ke sana dalam radius tersebut, untuk mengambil titik sampel," kata Agustinus saat diwawancarai media Papuapos Nabire di ruang kegiatan BPS, Senin (19/08/2024).
Tujuan dari pelaksanaan ini yakni untuk semakin mengakuratkan data. "Kalau dulu kita mendata sebatas mencacah lewat kertas dan sekarang kita harus terjun langsung ke lokasi tersebut," ucapnya.
Ia juga sampaikan terobosan dari BPS hanya KSA untuk memastikan keakuratan data, karena itu menggunakan satelit, ketika ketitik tersebut harus akses ke dalamnya. Itu hanya mengestimasikan luas tanam dan hasil panen hanya untuk KSA padi.
Lanjutnya, kalau untuk jagung sementara belum ada, ketika mengamati disegmen tersebut harus ngubin. "Kalau palawija itu harus ngubin secara manual ke lokasi-lokasi yang memang sudah menjadi sampel, tidak mesti di lokasi KSA tersebut," ungkapnya.
Agustinus menjelaskan, data dari KSA jagung ini, untuk memastikan luas tanam dan panen ke petani juga. Kalau hasil dari ubinan di tahun 2024 sampai di semester satu masuk ke semester dua untuk jagung sedikit meningkat. Karena bisa pupuknya mudah didapat, bisa juga karena faktor cuaca bagus.
"Jadi petani rata-rata meningkat terutama untuk daerah Wanggar. Satu plot ubinan itu dua meter setengah kali dua meter setengah, dengan jumlah pohon sekitar 34 sampai 38 maksimal," ujarnya. Itu juga ada yang menghasilkan hampir 10 Kg kalau ditimbang dalam bentuk tongkol.
Tambahnya, sekarang kembali dari bibit, kalau petani menggunakan bibit yang bagus, kalau petani menggunakan bibit lokal rata-rata hanya menghasilkan 4 Kg per plot ubinan. Untuk tanaman padi hitungan tahun ini standar, tidak naik dan tidak turun.(sam)
Bagikan artikel ini



