Dua Kepsek Akui Biaya Seragam dan Atribut Disetujui Orang Tua

NABIRE - Dua Kepala Sekolah (Kepsek), yakni Kepala sekolah SMP Negeri 3 Nabire, Adelena, S.Pd-K dan Kepsek SMP Negeri 5 Nabire, Kardina H. Ibrahim, S.Pd., M.Pd, mengakui bahwa biaya seragam baju batik, rompi, olah raga dan sejumlah atribut sekolah dilakukan atas dasar hasil kesepakatan orang tua murid melalui rapat antara pihak sekolah dan komite.
Karena menurut kedua Kepsek tersebut, untuk membedakan anak-anak sekolah di saat ini dari sekolah A atau B bukan dari seragam putih biru, tetapi dari baju batik, olahraga, rompi dan juga atribut berupa topi, kaos kaki, ikat pinggang serta tanda lokasi nama sekolah, dengan demikian pihak sekolah hanya meminta dukungan dan persetujuan orang tua murid.
Untuk itu, pada setiap awal tahun pelajaran setelah adanya Sistim Penerimaan Murid Baru (SPMB), tentunya ada rapat bersama antara orang tua wali murid antara pihak sekolah dan komite yang bukan saja membicarakan soal baju seragam dan antribut sekolah, tetapi ada sejumlah hal yang dibicarakan dan disepakati bersama.
Dikatakan Kepsek SMPN 3 Adelena dan Kepsek SMPN 5 Kardina H. Ibrahim, kepada Papuapos Nabire, Senin (6/7/26) di masing-masing sekolahnya, sesungguhnya pihaknya telah membebaskan biaya SPP dan komite yang selama ini ada di sekolah.

Dan selaku kepala sekolah telah berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang telah memberikan dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) yang sesungguhnya telah membantu anak, sehingga semua anak punya kesempatan untuk mendapatkan layanan pendidikan yang sama.
Untuk itu, selaku kepala sekolah hanya meminta dukungan dari orang tua, pemerintah dan masyarakat guna mewujudkan pelayanan pendidikan kepada semua anak bangsa (masyarakat) yang ada di Kabupaten Nabire tanpa membedakan suku, agama dan golongan demi mewujudkan anak Indonesia Emas pada tahun 2045 mendatang.
Karena tugas mencerdaskan anak bangsa yang ada di daerah ini, tentunya bukan saja menjadi tanggung jawab guru dan pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab orang tua dan seluruh lapisan masyarakat, sehingga dukungan doa menjadi harapan kami pihak sekolah, guna mewujudkan anak yang cerdas dan bermoral. (des)
Bagikan artikel ini



