NABIRE - Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Nabire tengah melaksanakan program penyaluran bantuan Bahan Makanan (Bama) atau Sembako. Program ini ditujukan secara khusus bagi masyarakat Orang Asli Papua (OAP) yang ada di wilayah setempat.

Kepala Bidang Penyuluhan dan Penggerakan DPPKB Kabupaten Nabire, Marthen Toding, S.KM., M.Kes., menjelaskan kegiatan mulia ini bersumber dari Dana Otonomi Khusus (Otsus). Oleh karena itu, penerima manfaat utama dari program bantuan ini adalah masyarakat dari kalangan OAP.

Bantuan bahan makanan ini secara spesifik diberikan kepada para ibu OAP yang telah berpartisipasi aktif dalam program keluarga berencana. Sasaran penerima adalah para ibu yang telah menjalani pemasangan alat kontrasepsi, baik metode suntik maupun implan, melalui layanan kesehatan DPPKB.

Marthen Toding mengungkapkan pendataan sasaran penerima bantuan dilakukan secara transparan dan akuntabel. Data tersebut diambil langsung melalui sistem aplikasi SIGA yang dikelola oleh para petugas penyuluh lapangan DPPKB di berbagai wilayah.

Menurutnya, data yang masuk ke dalam aplikasi SIGA bersumber dari pelayanan langsung yang telah terverifikasi menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Kementerian terkait juga mensyaratkan validitas data tersebut agar bantuan dapat tepat sasaran kepada warga yang membutuhkan.

Program penyaluran bantuan ini mencakup total 12 distrik yang tersebar di Kabupaten Nabire. Pemilihan distrik tersebut disesuaikan secara objektif berdasarkan data akseptor KB yang telah berhasil terinput dan terverifikasi di dalam aplikasi SIGA.

Kendati demikian, pihak dinas menyampaikan bahwa alokasi dana Otsus ini memiliki keterbatasan jangkauan. Bantuan tersebut dirancang untuk mencakup sekitar 200 sasaran ibu-ibu akseptor KB yang menggunakan metode suntik dan pemasangan implan.

Terkait progres pelaksanaan di lapangan, pihak DPPKB menyatakan penyaluran telah dimulai pada bulan Oktober ini. Dari total 12 distrik yang direncanakan, tim baru berhasil menyalurkan bantuan ke 6 distrik hingga hari ini.

Proses distribusi untuk 6 distrik tersisa ditargetkan akan rampung dalam waktu sepekan ke depan. Percepatan penyaluran ini dilakukan untuk menjaga kualitas bahan makanan, terutama komoditas yang mudah rusak seperti telur, agar sampai di tangan masyarakat dalam kondisi yang baik.

“Kami rencanakan mudah-mudahan kalau tidak ada halangan, bulan ini enam distrik sisanya kami selesaikan,” ujar Marthen Toding saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis, (8/10/2026) oleh awak media ini. (sam)