NABIRE – Pemerintah Kabupaten Nabire terus berkomitmen mendorong pengembangan perkebunan rakyat sebagai langkah nyata dalam memperkuat roda perekonomian masyarakat di wilayah pedesaan. Salah satu langkah strategis yang kini tengah dipersiapkan secara matang adalah pengembangan komoditas kopi unggul. Upaya ini difokuskan pada kawasan potensial di beberapa wilayah, di antaranya Distrik Uwapa, Nabire Barat, Yaur dan Makimi yang dinilai sangat cocok untuk budidaya tanaman tersebut.

Program strategis ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat untuk mendiversifikasi komoditas pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Bibit kopi unggul akan didatangkan dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember untuk ditanam di lahan seluas 400 hektare.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Ronald Wilison Manuaron, S.P., menyampaikan pengembangan komoditas Kopi Robusta ini menjadi strategi jitu untuk memperluas sumber pendapatan masyarakat. Melalui program ini, pemerintah daerah berharap ketahanan ekonomi di tingkat pelopor pembangunan daerah, yakni kampung dan distrik, dapat semakin kokoh menghadapi tantangan ke depan.

“Program ini tidak hanya berfokus pada penyaluran bibit kepada masyarakat, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas petani melalui edukasi teknik budidaya yang benar hingga penanganan pascapanen. Tujuannya agar masyarakat mampu menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi yang memiliki daya saing kuat di pasar,” ujar Ronald saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (2/06/2026).

Menariknya, komitmen Pemkab Nabire dalam sektor perkebunan tidak berhenti pada program pemerintah pusat saja. Secara sinergis, pemerintah daerah juga menjalankan program pengembangan Kopi Arabika secara khusus di Distrik Siriwo dengan memanfaatkan alokasi Dana Otonomi Khusus (Otsus). Dengan demikian, pengembangan dua varietas unggulan robusta dan arabika dapat berjalan beriringan guna memaksimalkan potensi geografis Nabire yang beragam.

Menurut Ronald, langkah Pemkab Nabire menjadikan komoditas kopi sebagai program prioritas didasarkan pada besarnya potensi pertanian lokal yang belum tergarap maksimal. Sektor perkebunan berbasis kemasyarakatan dinilai menjadi alternatif paling realistis dan berkesinambungan untuk menciptakan kemandirian ekonomi di tingkat desa, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada sektor formal.

“Kopi memiliki nilai ekonomi yang sangat menjanjikan jika dikelola secara serius, modern dan berkelanjutan. Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat agar tidak hanya sekadar menanam, tetapi juga memiliki keterampilan untuk meningkatkan kualitas hasil panen serta menguasai jalur pemasaran produk mereka,” jelas Ronald secara optimistis.

Ia menambahkan, keberhasilan pemanfaatan lahan ratusan hektare ini sangat bergantung pada sinergi kuat antara pemerintah daerah, pemerintah desa dan kelompok tani. 

Ronald berharap, melalui pendampingan yang konsisten, distrik-distrik yang menjadi lokus penanaman ini ke depan dapat berkembang menjadi kawasan sentra penghasil kopi unggulan baru yang membanggakan Kabupaten Nabire. (amd)