NABIRE – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Nabire terus menggenjot program pelatihan guna meningkatkan kompetensi sumber daya manusia lokal. Namun, hingga pertengahan tahun 2026, efektivitas penyerapan tenaga kerja lulusan pelatihan ke sektor formal atau perusahaan swasta masih menjadi tantangan besar yang tengah dievaluasi oleh instansi tersebut.

Kepala Bidang Pelatihan Kerja dan Produktivitas Tenaga Kerja Disnakertrans Nabire, Tience Pigome, S.Sos., saat ditemui di ruang kerjanya pada Senin (15/6/2026), mengakui bahwa pihaknya belum memiliki data pasti mengenai jumlah lulusan pelatihan yang terserap ke perusahaan. “Kita ada pelatihan seperti pelatihan las, tahun lalu dan tahun ini, tapi untuk terserap sampai ke perusahaan-perusahaan itu belum ada karena kita belum punya data,” ungkap Tience.

Meski belum terserap ke perusahaan formal, Tience menuturkan para-alumni pelatihan kini lebih banyak bergerak di sektor informal dan wirausaha mandiri. Mereka memanfaatkan keterampilan yang diperoleh untuk membuka jasa pembuatan pagar, tralis jendela, bangku hingga rak sepatu. “Memang tidak kalah juga dengan anak-anak yang ikut pelatihan ini, sudah bagus mereka punya hasilnya,” tambahnya.

Tience menyoroti kendala utama yang dihadapi lulusan pelatihan, yakni minimnya modal usaha untuk mengembangkan jasa yang mereka tawarkan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya adanya bantuan pendampingan dari pemerintah daerah setelah masa pelatihan selesai. 

“Harapan dari kami di Disnaker, kalau bisa tenaga-tenaga yang kami beri pelatihan ini seharusnya ada juga dana pendampingan, sehingga mereka tidak bekerja tanpa modal,” tegasnya.

Selain masalah pendampingan, Tience juga menyoroti kurangnya koordinasi antara perusahaan swasta di Nabire dengan pihak Disnakertrans. Selama ini, perusahaan cenderung tidak pernah berkoordinasi untuk mencari tenaga kerja lokal yang siap pakai, meskipun para lulusan pelatihan telah dibekali dengan sertifikat resmi sebagai bukti kompetensi mereka.

Tience meyakini bahwa anak-anak Papua sebenarnya memiliki kemampuan yang mumpuni dan daya kreasi yang tinggi, bahkan sering mendapatkan apresiasi dari para instruktur pelatihan. Namun, mereka masih terbentur pada kurangnya kesempatan kerja karena perusahaan sering kali lebih memilih merekrut tenaga kerja dari luar daerah.

“Kami berpikir ke depan perusahaan-perusahaan itu harus merekrut anak-anak Papua yang sudah memiliki sertifikat. Karena kami percaya, tidak ada yang tidak bisa. Jika diberikan kesempatan, anak-anak kita pasti bisa,” pungkas Tience menutup pembicaraan. (sam)