Disnak Kesulitan Kontrol Penyembelihan Sapi Betina Produktif, Populasi Terancam Menurun
NABIRE – Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mengungkapkan kekhawatiran serius terkait maraknya penyembelihan sapi betina produktif oleh para jagal di wilayah tersebut. Fenomena ini disinyalir menjadi faktor utama yang menyebabkan tren penurunan populasi sapi di Nabire dalam beberapa waktu terakhir.
Jika terus dibiarkan, daerah ini terancam krisis ketersediaan ternak lokal di masa depan.
Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Drh. I Dewa Ayu Dwita KM, Saat ditemui di ruang kerjanya Senin (19/01/2026), menyatakan temuan kasus pemotongan sapi betina yang seharusnya masih bisa berkembang biak jumlahnya tergolong cukup tinggi dan tersebar di beberapa titik.
Padahal, pihak dinas mengklaim telah berulang kali memberikan edukasi mengenai larangan penyembelihan sapi betina produktif. Sosialisasi ini menyasar para jagal dan pengelola Tempat Pemotongan Hewan (TPH) yang tersebar hingga ke pelosok Kabupaten Nabire. Aturan ini bertujuan menjaga keberlangsungan reproduksi ternak agar kebutuhan daging daerah tetap terpenuhi secara mandiri.
Namun, upaya sosialisasi tersebut nyatanya belum membuahkan hasil maksimal karena lemahnya mekanisme pengawasan. I Dewa Ayu mengakui bahwa pihaknya menghadapi kendala besar dalam mengontrol aktivitas para jagal secara langsung. Hal ini diperparah dengan belum adanya fasilitas pendukung yang memadai untuk memusatkan aktivitas pemotongan hewan.
Faktor utama sulitnya pengawasan ini, ketiadaan Rumah Potong Hewan (RPH) resmi yang dikelola langsung pemerintah daerah. Selama ini, aktivitas pemotongan sapi masih dilakukan secara mandiri di tempat pemotongan hewan milik warga atau rumahan. Kondisi ini membuat petugas sulit mendeteksi apakah sapi yang disembelih adalah jantan atau betina produktif.
"Selama tidak ada RPH, kami sulit mengontrol perilaku penyembelihan sapi betina produktif yang ada dijagal ataupun tempat pemotongan hewan rumahan," jelasnya.
Tanpa adanya sistem satu pintu di RPH, para jagal memiliki keleluasaan lebih besar untuk memotong ternak tanpa melalui pemeriksaan kesehatan dan status reproduksi yang ketat dari petugas medis veteriner.
Dinas Peternakan Nabire sangat mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari fenomena ini terhadap keseimbangan populasi sapi potong. Jika populasi betina produktif terus berkurang karena konsumsi atau diperjualbelikan dagingnya, maka siklus perkembangbiakan ternak di Nabire secara keseluruhan akan terganggu, yang pada akhirnya dapat memicu lonjakan harga daging akibat kelangkaan stok lokal.(amd)
Bagikan artikel ini



