NABIRE – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nabire, Yulian Agapa mengakui jika instansi yang dipimpinnya masih kekurangan tenaga kesehatan. Terutama di Puskesmas–Puskesmas yang terletak di daerah pingggiran kota dan terpencil. “Tenaga kesehatan baik dokter dan tenaga perawat sangat kurang di daerah terpencil, seperti di daerah Wapoga, Dipa, Menou dan bagian barat,” katanya saat hearing dengan anggota DPRD Nabire di kantornya, Rabu (4/2). Sehingga, tidak ada cara lain selain merekrut tenaga kesehatan yang berstatus pegawai tidak tetap untuk memenuhi kekurangan yang ada. Baik tenaga dokter maupun perawat. Namun hal itu perlu dikoordinasikan dengan pimpinan daerah mengingat berhubungan langsung dengan pembiayaan. “Ya, ini mungkin menurut saya sekaligus usul kepada Pemkab dan anggota dewan sebagai solusi dalam masalah ini. Dan kami juga akan laporkan kepada pimpinan daerah,” tuturnya. Selain kekurangan tenaga kesehatan, juga termasuk anggaran. Namun dana Otsus sangat membantu pembiayaan bidang–bidang di Dinkes. Bidang-bidang di dinas tersebut antara lain, Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes), Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Bidang Unit Pelayanan (UP), Bidang Perencanaan serta Instalasi Farmasi.  Namun kendati dengan minimnya anggaran, semua bidang telah melakukan Tupoksinya dengan baik. Terutama berkaitan dengan kegiatan rutin yakni pencegahan penyakit di daerah ini. Lebih khusus factor–factor yang mempengaruhi munculnya penyakit yang semuanya dibiayai oleh dana Otsus. “Tapi dua tahun terakhir ada pemangkasan. Tahun 2020 ada 2 milyar sedangkan tahun 2019 sebanyak 1 milyar. Dan walaupun kurang kami tetap membaginya sesuai peraturan yang sudah ditetapkan oleh gubernur. Jadi itu dua laporan kami yang disampaikan kepada dewan,” ujar Yulian Agapa.  Sementara itu, ketua tim DPRD Nabire bidang kesehatan, Musa Malisa mengatakan bahwa banyak ditemui saat kunjungan kerja di berbagai pelosok terutama di Nabire terpencil terdapat kekurangan tenaga kesehatan terutama dokter. Hal lain adalah di daerah terpencil seperti daerah Kamarisaso atau Napan dan juga beberapa daerah lain, ada bangunan tetapi tenaga kosong. “Jadi kalau ada bangunan harus diimbangi dengan tenaga medis. Kami kelilinng dan temukan banyak bangunan rumput tumbuh di sana. Atau ada Puskesmas yang hanya dua atau tiga,” kata Malisa. Maka menurutnya, sebagai wakil rakyat akan memperjuangkan hal tersebut kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti. Artinya, satu contoh bahwa pelayanan dasar haurs diutamakan, yakni di Puskesmas–Puskesmas sehingga pasien tidak menumpuk di rumah sakit. “Itu soal tenaga dan kalau dana Otsus, memang kami temukan selalu kurang dari yang seharusnya,” tandas Malisa. (pas)