NABIRE - Sektor pertanian di Nabire mendapat angin segar. Dinas Pertanian Kabupaten Nabire mengambil langkah proaktif dalam meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat Orang Asli Papua (OAP) melalui pelatihan intensif. 

Sebanyak enam kelompok tani OAP mengikuti kursus singkat pengembangan kapasitas kelembagaan petani, fokus pada pengolahan hasil bumi menjadi produk bernilai jual tinggi, yang dilaksanakan di Aula PU Nabire, pada Selasa (18/11/2025).

Program kursus ini bukan sekadar teori. Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Nabire, Mediati Simanjuntak, menjelaskan pelatihan ini mencakup enam jenis olahan utama. Mulai dari pembuatan kue berbahan dasar ubi jalar, produksi susu kedelai dan tempe hingga inovasi seperti saus cabai dan saus tomat. 

Tak hanya itu, peserta juga dibekali keterampilan membuat aneka tepung dari singkong dan beras serta diversifikasi produk selai seperti selai nanas, selai kacang tanah dan sereh yang unik.

“Kami berharap mama-mama yang hadir di acara ini dapat langsung mempraktikkan dan mengolah hasil pertaniannya. Tujuan utamanya bukan hanya menjual bahan mentah, tetapi menciptakan nilai tambah,” ujar Mediati Simanjuntak. 

Dan pelatihan ini dirancang untuk mengubah hasil panen mentah menjadi bahan jadi atau produk siap konsumsi, memberikan jalur baru bagi petani untuk mendapatkan pendapatan yang lebih optimal.

Salah satu contoh fokus pengolahan adalah jagung. Menurut Mediati, komoditas ini tidak hanya untuk direbus atau pakan ternak. Melalui kursus, jagung dapat diolah menjadi emping jagung—cemilan renyah yang bisa dinikmati keluarga dan dipasarkan. 

"Mereka bisa mengolah menjadi bahan jadi, bahan yang siap dikonsumsi," tambahnya, menegaskan pentingnya hilirisasi produk pertanian lokal.

Potensi pasar di Nabire terbilang besar dan belum sepenuhnya digarap oleh produsen lokal. Berdasarkan pengamatan dinas pertanian, produk olahan seperti emping jagung, kue ubi jalar dan susu kedelai banyak dijual di toko dan minimarket di Nabire, namun sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah. Kondisi ini menjadi peluang emas bagi kelompok tani OAP yang baru dilatih.

Dengan bekal keterampilan baru ini, Dinas Pertanian Nabire berharap para Mama-mama petani dapat mengisi ceruk pasar tersebut. Program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan investasi dalam kemandirian pangan dan ekonomi lokal, mengubah petani dari penjual komoditas mentah menjadi produsen olahan yang berdaya saing, sekaligus mendorong cita rasa lokal Nabire untuk menjadi tuan rumah di daerah sendiri.(amd)