NABIRE - Niat hanya ingin menikmati liburan akhir pekan dengan acara bakar-bakar ikan di pantai, justru puluhan pelajar di Nabire harus berurusan dengan pihak kepolisian. Sebanyak 60 pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) diamankan Polres Nabire setelah melakukan kegiatan luar sekolah, mereka diduga membawa ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI.

Kejadian ini bermula pada Sabtu kemarin usai para siswa menyelesaikan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sekitar pukul 11.00 WIT. Tanpa sepengetahuan pihak sekolah maupun orang tua, kelompok siswa ini bergerak menuju kawasan Pantai Waroki.

Wakapolres Nabire Kompol Dr. Piter Kendek, S.Sos., M.M., pada Senin (27/7/2026) mengatakan, pengamanan dilakukan sebagai langkah preventif dan humanis setelah polisi menerima informasi adanya kegiatan yang berpotensi mengganggu keamanan. 

Dari kegiatan tersebut, petugas menemukan sejumlah atribut berupa Bendera Bintang Kejora, senjata tajam serta buku-buku yang dinilai memuat materi ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

“Awalnya ada kegiatan yang diklaim bersifat positif. Namun, kami menemukan ada kelompok kecil pelajar yang membawa atribut Bendera Bintang Kejora serta beberapa senjata tajam, sehingga dilakukan tindakan kepolisian secara terukur dan humanis dengan mengamankan mereka untuk dimintai keterangan,” kata Wakapolres.

Sebanyak sekitar 60 pelajar yang berada di lokasi kemudian dibawa ke Mapolres Nabire untuk menjalani pemeriksaan. Polisi melakukan pendalaman guna mengetahui keterlibatan masing-masing pelajar dalam kegiatan tersebut.

Dari hasil pemeriksaan, sebagian besar pelajar dinyatakan tidak mengetahui adanya agenda pengibaran Bendera Bintang Kejora. Mereka disebut hanya mengikuti kegiatan bersama tanpa memahami adanya kelompok yang memiliki tujuan berbeda.

“Saat dilakukan pemeriksaan secara intensif, kami menemukan delapan anak yang diduga berperan untuk mengajak dan memberikan pemahaman mengenai ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Wakapolres.

Selain mengamankan para pelajar, polisi juga menyita dua lembar Bendera Bintang Kejora, sebuah kampak, satu bilah pisau serta sejumlah buku yang diduga berisi materi berhaluan ekstrem. Barang bukti tersebut kini diamankan untuk kepentingan penyelidikan.

Pelajar yang dinilai tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan tersebut langsung dipulangkan pada hari yang sama. Proses pemulangan turut disaksikan kepala sekolah yang hadir dan menandatangani surat pernyataan.

Sementara delapan pelajar yang masih menjalani pemeriksaan lanjutan akhirnya juga dipulangkan pada Minggu (26/7/2026). Berdasarkan hasil pemeriksaan, salah seorang pelajar mengaku memperoleh Bendera Bintang Kejora dari kerabatnya di SP2 dan menggunakannya untuk berfoto.

“Yang delapan orang itu sudah kami kembalikan kepada orang tuanya. Hari ini mereka datang untuk membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatan yang sama,” jelas Waka Polres Nabire.

Sementara itu, Kepala sekolah SMA YPK Tabernakel Nabire, Drs. Suardiman Dayadi, M.Pd., menegaskan kegiatan para pelajar tersebut berlangsung di luar lingkungan sekolah dan tanpa sepengetahuan pihak sekolah.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Aktivitas tersebut bukan merupakan program sekolah dan dilakukan di luar jam maupun lingkungan Pendidikan,” ujarnya.

Pihak sekolah mengungkapkan, sebagian pelajar yang terlibat diduga direkrut ke dalam organisasi di luar sekolah, sehingga sekolah hanya mengakui organisasi resmi hanya OSIS sebagai wadah pembinaan siswa, sementara organisasi lain di luar sekolah tidak menjadi bagian dari kegiatan pendidikan yang diselenggarakan sekolah.

Sebagai bentuk pembinaan, sekolah akan memberikan sanksi yang bersifat edukatif melalui pemanggilan orang tua, pembuatan surat pernyataan serta pembinaan intensif terhadap para siswa. Dan bagi siswa yang mengulangi pelanggaran tata tertib, sekolah akan mengambil langkah sesuai ketentuan yang berlaku, yaitu pengembalian siswa kepada orang tua.

Kepala sekolah juga menegaskan komitmen SMA YPK Tabernakel dalam memperkuat pendidikan karakter, nasionalisme dan wawasan kebangsaan melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), pendidikan agama serta berbagai kegiatan pembinaan di sekolah.

Ia mengajak seluruh orang tua untuk terus menjalin komunikasi dan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak di luar sekolah agar tidak mudah terpengaruh oleh pihak-pihak yang dapat merugikan masa depan mereka.

Melalui klarifikasi bersama tersebut, Polres Nabire bersama SMA YPK Tabernakel berharap masyarakat memperoleh informasi yang utuh sehingga tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.

Polres Nabire dan pihak sekolah juga menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dalam melakukan pembinaan terhadap generasi muda melalui pendekatan edukatif, humanis serta berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (luk)