NABIRE - Bupati Kabupaten Nabire Isaias Douw, S.Sos.,MAP hingga saat ini terus melakukan perubahan dan memajukan sektor pariwisata di wilayah Kabupaten Nabire. Salah satu kemajuan di sektor pariwisata yang saat ini tengah dikembangkan Bupati Nabire melalui instansi teknis Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nabire adalah pengembangan obyek wisata Hiu Paus yang berada di wilayah perairan Kwatisore Distrik Yaur. Pengembangan Hiu Paus yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Nabire bukan tanpa alasan, karena selama ini keindahan obyek wisata Hiu Paus yang nyata-nyata dimiliki Kabupaten Nabire sebagai aset daerah di bidang pariwisata dan dinikmati oleh para wisatawan lokal maupun non lokal (asing) belum mencapai target yang seharusnya dicapai. Pemasukan Pendapatan Asli Daerah yang seharusnya masuk dalam PAD Kabupaten Nabire selama ini, malah dinikmati kabupaten lain. “Selama inikan kabupaten-kabupaten lain yang bertetangga dengan Nabire ini mengambil kesempatan, masyarakat adat sekitar yang mempunyai hak ulayat di daerah sekitar obyek wisata Hiu Paus sampai sekarang belum menikmati apa-apa, apalagi pemerintah. Padahal kita yang punya obyek wisata ini, banyak kapal-kapal asing masuk ke perairan Nabire ini tanpa ijin hanya mau lihat Hiu Paus, makanya saya akan terbitkan Perbup supaya jelas dan masyarakat dapat menikmati hasilnya,” ungkap Bupati Isaias Douw, saat melihat dari dekat obyek wisata Hiu Paus beberapa waktu lalu. Kata Isaias, selama ini Kabupaten Nabire banyak memiliki obyek wisata yang luar biasa, tetapi belum dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah melalui instansi teknis maupun masyarakat lokal yang mempunyai hak ulayat, sehingga pada bulan Desember 2017 dirinya akan menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) mengenai pengelolaan obyek wisata. Agar, Pemda juga mendapat PAD dan masyarakat pemilik hak ulayat juga mendapatkan pendapatan ekonomi masyarakat dari pengelolaan bersama yang akan dilakukan secara transparan. “Saya melakukan hal ini untuk hari-hari kedepan, kita harus menaruh pondasi baik-baik untuk masyarakat Nabire. Berbicara soal pengembangan wisata berarti kita bicara tentang pengusaha pengelola obyek dan daya tarik obyek wisata. Semoga dalam perencanaan pengembangan pariwisata akan menjadi proses pengembangan Sumber Daya Alam (SDA) tetap melekat dan tidak boleh terpisah oleh para pengelola maupun Pemda,” pungkasnya.(cad)