Bupati Mesak Soroti Berkurangnya Taksi Trayek di Nabire, Dorong Transportasi Terintegrasi
Menurut Mesak, kondisi tersebut tidak terlepas dari perubahan kebutuhan dan pola mobilitas masyarakat. Warga cenderung memilih moda transportasi yang dinilai lebih cepat dan praktis, sementara kepemilikan kendaraan pribadi juga semakin meningkat.

NABIRE - Bupati Nabire Mesak Magai menyoroti perubahan pola mobilitas masyarakat yang menyebabkan keberadaan taksi angkutan umum pada sejumlah trayek di Kabupaten Nabire semakin berkurang. Taksi yang sebelumnya banyak melayani trayek Samabusa, dalam kota, Topo, Wanggar dan sejumlah wilayah lainnya kini semakin sulit ditemukan.
Menurut Mesak, kondisi tersebut tidak terlepas dari perubahan kebutuhan dan pola mobilitas masyarakat. Warga cenderung memilih moda transportasi yang dinilai lebih cepat dan praktis, sementara kepemilikan kendaraan pribadi juga semakin meningkat.
“Banyak orang yang ingin cepat tiba di tempat tujuan, sehingga memilih ojek. Selain itu, jumlah taksi berkurang karena banyak orang sudah memiliki kendaraan dan tidak mau lama-lama di taksi,” kata Mesak kepada awak media seusai mengikuti upacara Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) di Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Nabire, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, ojek kini menjadi salah satu alternatif transportasi yang banyak dipilih masyarakat karena dapat mengantarkan penumpang lebih cepat ke tempat tujuan.
Meski demikian, Mesak menilai perubahan pola transportasi tersebut tidak berarti keberadaan angkutan umum dapat diabaikan. Pemerintah daerah tetap perlu memastikan masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pedesaan dan kawasan produksi pertanian, memiliki akses transportasi yang memadai menuju pusat-pusat perdagangan.
Ia menekankan, transportasi harus dipandang bukan hanya sebagai sarana mobilitas masyarakat, tetapi juga sebagai bagian penting dari rantai distribusi ekonomi. Mesak mengatakan Pemerintah Kabupaten Nabire saat ini memiliki layanan Perum Damri yang melayani sejumlah kawasan pedesaan, baik di wilayah Nabire Barat, Nabire Timur maupun kawasan Nabire Pegunungan.
Keberadaan layanan tersebut, kata dia, perlu terus didorong agar dapat membantu masyarakat, terutama dalam mendistribusikan hasil pertanian dari kampung-kampung menuju kawasan perkotaan. “Di Nabire ada Perum Damri yang sedang melayani kawasan pedesaan, baik kawasan bagian Nabire Barat, bagian Nabire Timur dan bagian Nabire Pegunungan,” ujarnya.
Menurut Mesak, konektivitas tersebut penting agar hasil produksi masyarakat dari kawasan pertanian dapat lebih mudah dibawa ke kota sehingga proses jual beli dapat berjalan dengan baik.
Ia menilai keterhubungan antara kampung sebagai kawasan produksi dengan kota sebagai pusat perdagangan akan memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, pengembangan transportasi tidak cukup hanya berorientasi pada pergerakan penumpang. Sistem transportasi juga harus mampu mendukung distribusi barang dan hasil pertanian dengan waktu serta biaya yang lebih efisien.
“Transportasi ini bukan hanya untuk orang, tetapi juga bagaimana hasil pertanian dari kampung bisa dibawa ke kota. Ini supaya proses jual beli masyarakat dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Mesak juga mendorong keterhubungan antarmoda transportasi di Nabire. Menurutnya, karakter geografis Papua membuat kebutuhan transportasi tidak dapat hanya mengandalkan satu jenis moda.
Ia menyebut transportasi darat, laut dan udara memiliki fungsi masing-masing dalam menghubungkan masyarakat dan wilayah di Papua. “Kalau di Pulau Jawa ada transportasi kereta api dan sebagainya, tetapi kalau kita di Papua ini hanya ada tiga: transportasi darat, kemudian laut dan udara,” kata Mesak.
Karena itu, ia menilai penguatan konektivitas antarmoda menjadi bagian penting dalam pembangunan transportasi daerah. Integrasi tersebut diharapkan dapat mendukung mobilitas masyarakat sekaligus memperlancar distribusi barang dan hasil pertanian.
Mesak juga mengapresiasi jajaran Dinas Perhubungan Kabupaten Nabire yang dinilainya terus proaktif dalam mengatur lalu lintas dan pelayanan transportasi di daerah. Namun, ia turut menyoroti masih banyaknya kendaraan pribadi yang menggunakan pelat nomor dari luar daerah Nabire.
Pemerintah daerah, kata Mesak, akan melakukan penertiban terhadap kendaraan-kendaraan tersebut. Ia menyebut kendaraan yang terdaftar di Nabire memberikan kontribusi bagi daerah melalui pembayaran pajak maupun retribusi parkir.
Penertiban itu, lanjutnya, merupakan bagian dari upaya pemerintah menata kendaraan sekaligus memastikan aktivitas kendaraan bermotor memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Mesak menegaskan, transportasi memiliki peran strategis dalam menunjang aktivitas masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian. Ia berharap penguatan transportasi umum dan konektivitas antarmoda dapat terus dilakukan, sehingga masyarakat di kampung tidak kesulitan membawa hasil produksi ke pusat perdagangan.
Dengan demikian, transportasi di Nabire tidak hanya berfungsi sebagai sarana perjalanan, tetapi juga menjadi penghubung antara kawasan produksi, permukiman, pusat perdagangan, pelabuhan dan Bandara. (amd)
Bagikan artikel ini



