SUGAPA – Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni, SS, M.Si meminta kepada pihak-pihak tertentu untuk tidak membuat informasi yang menyudutkan pemerintah daerah setempat pasca aksi kontak senjata antara KKSB dengan TNI/Polri di wilayah Kabupaten Intan Jaya. Tegas Bupati Nato, Kabupaten Intan Jaya adalah kabupaten yang merupakan bagian integral dari NKRI. Terkait dengan terjadinya aksi kontak senjata beberapa waktu lalu di Kabupaten Intan Jaya, kata bupati, saat ini langkah strategis yang sudah dilakukan Pemkab Intan Jaya adalah dengan membentuk tim gabungan guna memberikan bantuan kepada masyarakat.  “Pemda Intan Jaya sudah membentuk tim gabungan yang terdiri dari pemerintah daerah, DPRD, TNI/Polri yang ada disana, kemudian gereja, dan lembaga sosial. Jadi kami sudah bentuk tim, dan tim ini sudah bekerja memberikan bantuan dan juga pendataan masyarakat. Kami juga sempat buat posko dan lain-lain tapi masyarakat tidak mau tinggal di tenda karena masih ada rasa takut,” katanya beberapa waktu lalu. Diungkapkan Bupati Natalis Tabuni, selama ini Kabupaten Intan Jaya dikenal sebagai daerah yang aman dari aksi kontak senjata. Kelompok TPN/OPM atau kelompok kriminal sipil bersenjata (KKB) tidak pernah eksis di daerahnya.  Namun sayangnya sejak kelompok dari Ilaga Kabupaten Puncak Jaya menyeberang menuju Tembagapura melalui ibukota Kabupaten Intan Jaya, menyebabkan terjadinya kotak senjata. Alhasil membuat kedua pentolan TPN/OPM bersama anggotanya bertahan di wilayah Kabupaten Intan Jaya.  Bupati Natalis berharap kelompok TPN/OPM ini bisa segera hengkang dari daerahnya. Agar situasi keamanan dan ketertiban masyarakat bisa kembali normal. Pasalnya kelompok tersebut telah menduduki sejumlah kampung dan distrik di Kabupaten Intan Jaya. Bahkan anak-anak merasa ketakutan dan merasa enggan pergi ke sekolah. Sementara guru-guru pendatang pun sudah tidak ada di Kabupaten Intan Jaya. Padahal dirinya sudah pernah menghimbau untuk kembali mengajar, namun mereka tak juga kembali karena alasan faktor keamanan.  “Dari sebanyak 97 kampung, yang dikuasai sekarang itu diantaranya Kampung Titigi, Ndugisiga, Ekienemba, Joparu, Ugimba satu distrik, Ulapa, Samaba, Wabui, Suangama. Sekitar ada 11 kampung yang mereka ada disitu. Suasana mencekam bagi masyarakat, itu dilihat dari masyarakat yang tidak bisa lakukan aktivitas seperti biasa,” tuturnya.  Lanjut bupati, jika perang ini segera berakhir semua kegiatan atau aktivitas baik oleh semua komponen, pemerintah jalan, kemudian masyarakat juga seperti biasa, belajar mengajar juga bisa jalan, pelayanan kesehatan juga bisa jalan, pembangunan pun bisa dilakukan dengan baik. (ros)